Memuat...

Mahasiswi Palestina Berusia 18 Tahun Jadi Kandidat Astronaut Termuda di Dunia

Zarah Amala
Jumat, 12 Juni 2026 / 27 Zulhijah 1447 11:39
Mahasiswi Palestina Berusia 18 Tahun Jadi Kandidat Astronaut Termuda di Dunia
Layali Khatib berhasil melewati penelitian dan tes yang diperlukan untuk diterima sebagai astronot (Al Jazeera)

HEBRON (Arrahmah.id) - Layali Al-Khatib, seorang mahasiswa semester awal Fakultas Teknik di Palestine Polytechnic University (PPU), mengukir sejarah baru di panggung sains internasional setelah resmi terpilih sebagai kandidat astronaut termuda di dunia. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Layali berhasil menembus seleksi global yang super ketat, sekaligus menempatkan nama Palestina dalam peta dunia kedirgantaraan dan eksplorasi ruang angkasa luar.

Sejak masa kanak-kanak, Layali telah menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap astronomi dan astrofisika (ilmu fisika yang mempelajari sifat dan fenomena benda langit). Ketertarikan tersebut bertransformasi menjadi komitmen riset yang serius, di mana ia berhasil menyusun sejumlah penelitian spesifik mengenai teori gravitasi luar angkasa dan dampaknya yang bervariasi di berbagai planet, serta riset lanjutan di bidang robotika ruang angkasa (space robotics). Rekam jejak akademis ini membawanya aktif menjadi delegasi dalam berbagai kompetisi ilmiah dan konferensi antariksa internasional di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Jerman.

Perjalanan Layali menuju program pelatihan astronaut internasional ini harus melewati penyaringan multidimensi yang dirancang berdasarkan standar kedirgantaraan global. Penilaian awal terhadap portofolio riset astrofisika dan rekam jejak akademik di universitas. Serangkaian tes psikologi tingkat tinggi, uji kecerdasan taktis, serta pemeriksaan kesehatan fisik komprehensif guna memastikan ketahanan tubuhnya terhadap lingkungan ekstrem ruang angkasa. Fase krusial berupa wawancara tatap muka secara mendalam dengan para astronaut veteran dunia untuk menguji mentalitas dan kesiapan misinya.

Pencapaian besar ini tidak diraih dengan mudah. Layali mengakui dirinya harus menghadapi tantangan sosiopolitik dan keterbatasan fasilitas riset di wilayahnya. Namun, ketekunan personal yang ditopang penuh oleh dukungan keluarga, sekolah, khususnya sang ayah, serta fasilitas riset dari manajemen Palestine Polytechnic University, berhasil mengantarkannya ke titik ini. Bagi Layali, kelulusannya bukan sekadar pencapaian portofolio pribadi, melainkan sebuah manifestasi perjuangan bangsanya.

"Kehadiran Palestina dalam fase sains setinggi ini adalah sebuah pencapaian nasional yang sangat besar. Saya berharap langkah ini menjadi pemantik api yang menerangi jalan bagi para pelajar Palestina dan generasi muda Arab lainnya untuk berani menembus batas ilmu astronomi. Saya sangat berharap, saya bukan menjadi yang terakhir," ungkap Layali Al-Khatib.

Keberhasilan Layali Al-Khatib menjadi sinyal kuat bagi dunia akademis internasional bahwa keterbatasan wilayah dan konflik tidak menjadi penghalang bagi lahirnya talenta sains kelas atas. Pihak universitas menyatakan komitmennya untuk terus mengawal pembiayaan dan pendampingan akademis Layali selama menjalani program persiapan astronaut ini, membawa asa dari bumi Palestina langsung menuju galaksi semesta yang luas. (zarahamala/arrahmah.id)