Memuat...

Munarman Bongkar Strategi Gerakan LGBTQ di Indonesia: Isu HAM, Pendidikan, dan Media Jadi Pintu Masuk

Samir Musa
Rabu, 29 Juli 2026 / 15 Safar 1448 16:55
Munarman Bongkar Strategi Gerakan LGBTQ di Indonesia: Isu HAM, Pendidikan, dan Media Jadi Pintu Masuk
Munarman memaparkan pandangannya mengenai strategi yang menurutnya digunakan gerakan LGBTQ untuk memperluas pengaruh di Indonesia melalui isu HAM, dunia pendidikan, media, dan regulasi dalam Seminar Regulasi Anti-LGBTQ di Markaz Syariah Petamburan, Jakarta. (Youtube)

JAKARTA (Arrahmah.id) – Advokat senior Munarman mengungkap pandangannya mengenai strategi yang menurutnya digunakan kelompok LGBTQ untuk memperluas pengaruh di Indonesia. Ia menilai isu hak asasi manusia (HAM), dunia pendidikan, media, hingga regulasi dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap LGBTQ.

Pernyataan tersebut disampaikan Munarman saat menjadi pembicara dalam Seminar Regulasi Anti-LGBTQ di Markaz Syariah Petamburan, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Menurut Munarman, langkah pertama yang dilakukan adalah membingkai LGBTQ sebagai bagian dari hak asasi manusia.

"Strateginya itu menjadikan seolah-olah LGBTQ adalah hak," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hak asasi manusia yang bersifat mendasar adalah hak yang melekat pada setiap manusia sejak lahir, seperti hak untuk hidup, bebas dari penyiksaan, memperoleh perlakuan hukum yang adil, serta menjalankan ibadah.

"Hak asasi manusia itu konsepnya adalah hak yang melekat ketika manusia sejak dilahirkan. Selain itu, hak-hak lainnya merupakan hasil karangan manusia yang berbeda-beda sesuai budaya masing-masing," katanya.

Berdasarkan pandangan tersebut, Munarman menilai penyebutan LGBTQ sebagai bagian dari hak asasi manusia merupakan kekeliruan.

"Kalau mereka menyatakan bahwa LGBTQ adalah hak asasi manusia, keliru. Tidak betul," tegasnya.

Selain itu, Munarman menyebut dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang dinilai strategis untuk memengaruhi cara berpikir masyarakat. Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi dijadikan ruang untuk membangun narasi bahwa LGBTQ bukan merupakan penyimpangan perilaku.

"Strategi kedua melalui konsep pendidikan. Mereka mempengaruhi cara berpikir dan doktrin berpikir," ujarnya.

Ia mencontohkan polemik yang sempat terjadi di lingkungan Universitas Indonesia terkait pernyataan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi UI mengenai LGBTQ.

"Belum lama ini ada kejadian di BEM Psikologi UI ada yang menyatakan bahwa LGBT itu bukan penyimpangan. Lalu ketika kampus memberikan sanksi, pihak rektorat ditegur oleh Dewan Pers," ungkapnya.

Di samping dunia pendidikan, Munarman juga menyoroti peran media dalam membentuk opini publik. Menurutnya, sebagian media memberikan ruang terhadap narasi yang mendukung LGBTQ sehingga memengaruhi persepsi masyarakat.

"Mereka juga memainkan media. Banyak orang ketakutan karena diserbu media," katanya.

Munarman juga mendorong adanya regulasi yang menurutnya dapat memperkuat perlindungan terhadap nilai-nilai moral dan keluarga di Indonesia.

Part 1

Part 2

(Samirmusa/suaraislam)