Memuat...

Timur Tengah Kembali Membara: AS dan Arab Saudi Serang Irak, Iran Klaim Hantam Pangkalan AS di Yordania

Samir Musa
Rabu, 29 Juli 2026 / 15 Safar 1448 16:39
Timur Tengah Kembali Membara: AS dan Arab Saudi Serang Irak, Iran Klaim Hantam Pangkalan AS di Yordania
Helikopter serang Amerika Serikat saat lepas landas untuk melaksanakan operasi militer di kawasan. (CENTCOM melalui X)

AMMAN (Arrahmah.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengumumkan telah mencegat rudal-rudal Iran dan bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Irak yang diklaim digunakan kelompok bersenjata pro-Iran. Di saat yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.

Perkembangan ini menandai berakhirnya masa tenang yang sempat berlangsung beberapa hari setelah kedua pihak menghentikan serangan untuk membuka peluang diplomasi.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan seluruh rudal Iran yang diarahkan ke pasukan AS di kawasan berhasil dicegat. Namun, pihaknya tidak memberikan rincian mengenai jumlah maupun lokasi pasti peluncuran rudal tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Amerika Serikat dan Arab Saudi mengonfirmasi telah melakukan serangan gabungan terhadap sejumlah lokasi kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di Irak. Washington menyebut operasi itu dilakukan sebagai respons atas puluhan serangan yang diklaim diarahkan Garda Revolusi Iran terhadap kepentingan Amerika dalam beberapa waktu terakhir.

Militer AS juga memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan terhadap pasukan Amerika maupun infrastruktur energi Arab Saudi akan memicu tindakan balasan yang lebih besar.

Arab Saudi Akui Terlibat

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan CENTCOM dan menyasar target-target kelompok bersenjata di wilayah Irak yang dituduh terlibat dalam serangan terhadap fasilitas minyak Saudi.

"Kami tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi yang ditujukan kepada kami," demikian pernyataan resmi kementerian.

Setelah serangan berlangsung, Al-Hashd Asy-Sya'bi (Popular Mobilization Forces/PMF) mengumumkan sejumlah markas mereka di berbagai wilayah Irak menjadi sasaran serangan udara, termasuk di Provinsi Ninawa, Basrah, dan Wasith.

Menurut PMF, sedikitnya 20 orang tewas dan 32 lainnya terluka, meski jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah.

Menanggapi situasi tersebut, Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi langsung memerintahkan digelarnya rapat darurat Dewan Keamanan Nasional.

Sebelumnya, Arab Saudi juga mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat nirawak yang disebut diluncurkan kelompok bersenjata pro-Iran dari Irak selama dua hari berturut-turut. Namun, sejumlah faksi bersenjata Irak membantah keterlibatan mereka dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sementara itu, koalisi yang menamakan diri Perlawanan Islam di Irak mengisyaratkan bahwa serangan drone sebelumnya dilakukan oleh kelompok Houthi di Yaman.

Seorang pejabat militer Iran juga mengatakan bahwa Teheran tidak memiliki kaitan dengan proyektil yang ditembakkan dari negara lain menuju Arab Saudi. Menurutnya, mengaitkan setiap aksi terhadap kepentingan Amerika di kawasan dengan Iran merupakan kesalahan perhitungan.

Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Yordania

Menurut laporan media Amerika, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Selasa malam. Seorang pejabat AS yang dikutip Axios menyatakan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.

Di sisi lain, militer Yordania mengumumkan berhasil menembak jatuh lima rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan, tanpa mengungkap lokasi sasaran.

Sebelumnya, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang "pangkalan udara militer Amerika di Yordania" menggunakan sejumlah rudal balistik dan mengancam akan melanjutkan serangan apabila ancaman serta pergerakan militer Amerika terhadap kepentingan Iran terus berlanjut.

Militer Yordania juga mengungkapkan bahwa sepanjang Juli mereka telah mencegat 70 rudal balistik Iran serta 25 drone yang berasal dari wilayah Iran, selain beberapa drone lain yang disebut datang dari arah Irak.

Risiko Konflik Semakin Meluas

Gelombang eskalasi terbaru dinilai memperluas cakupan konflik di Timur Tengah. Keterlibatan langsung Arab Saudi dalam operasi militer di Irak bersama Amerika Serikat menjadi perkembangan baru yang berpotensi memperbesar ketegangan kawasan.

Pemerintah Irak kini menghadapi tekanan untuk memastikan wilayahnya tidak digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap negara-negara tetangga. Di sisi lain, kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran terus membantah keterlibatan mereka dalam serangan terhadap Arab Saudi.

Analis militer Kolonel Nidhal Abu Zaid mengatakan penyebaran serangan dari Basrah, Wasith hingga Ninawa menunjukkan bahwa operasi Amerika dan Arab Saudi bertujuan melemahkan infrastruktur militer kelompok-kelompok bersenjata di Irak agar tidak lagi mampu meluncurkan drone maupun menyerang pangkalan militer dan fasilitas strategis di kawasan.

Sementara itu, laporan Associated Press yang mengutip kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut pertempuran berkepanjangan dengan Iran telah menguras sebagian besar persediaan rudal pencegat Patriot dan THAAD milik Amerika Serikat.

Apabila serangan terus berlanjut, Washington diperkirakan harus membatasi penggunaan rudal pencegat atau menerima risiko lebih besar dalam menentukan sasaran yang akan dicegat.

(Samirmusa/arrahmah.id)