Memuat...

New York Times: AS Khawatir "Israel" Berencana Bunuh Ketua Parlemen dan Menlu Iran, Perundingan Damai Terancam Gagal

Samir Musa
Jumat, 3 Juli 2026 / 18 Muharam 1448 15:19
New York Times: AS Khawatir "Israel" Berencana Bunuh Ketua Parlemen dan Menlu Iran, Perundingan Damai Terancam Gagal
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf (tengah) memimpin delegasi perunding Iran di Islamabad. (EPA)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Harian The New York Times mengungkap bahwa Amerika Serikat sempat mengkhawatirkan rencana "Israel" untuk membunuh dua pejabat tinggi Iran yang terlibat dalam proses diplomasi, karena dikhawatirkan akan menggagalkan perundingan damai yang sedang berlangsung.

Mengutip sejumlah pejabat AS, surat kabar tersebut melaporkan bahwa "Israel" diduga mempertimbangkan operasi untuk menargetkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi,  ketika Washington tengah melakukan pembicaraan sensitif dengan Teheran guna mencapai kesepakatan damai sementara.

Menurut laporan itu, para pejabat AS menilai bahwa upaya pembunuhan terhadap kedua tokoh tersebut berpotensi menghancurkan jalur diplomasi dan memicu kembali eskalasi konflik.

The New York Times menyebut bahwa pembunuhan terhadap para pemimpin Iran memang telah menjadi bagian dari strategi "Israel" sejak awal perang. Namun, kekhawatiran Washington meningkat ketika perundingan gencatan senjata yang sensitif dimulai pada April lalu.

Bahkan, menurut para pejabat yang diwawancarai surat kabar tersebut, Washington meminta sejumlah negara di kawasan untuk memperingatkan Iran mengenai kemungkinan serangan "Israel" terhadap Ghalibaf dan Araghchi. Langkah itu diambil agar setiap upaya pembunuhan tidak menggagalkan proses negosiasi.

Para pejabat AS juga mengakui bahwa pada fase awal perang, Ghalibaf dan Araghchi sebagai pejabat senior pemerintah Iran dianggap sebagai "target yang sah" oleh "Israel", yang saat itu disebut berupaya menggulingkan pemerintahan Iran. Namun setelah perundingan berjalan serius sejak April, Washington menilai pembunuhan terhadap keduanya hanya akan mengakhiri diplomasi dan memicu kembali peperangan.

Laporan itu juga menyebut pemerintahan Presiden AS telah mengetahui sekitar Maret lalu bahwa setidaknya Ghalibaf masuk dalam daftar target "Israel". Washington kemudian meminta "Israel" agar tidak menyerangnya.

Sementara itu, sejumlah pejabat Iran mengklaim Ghalibaf selamat dari dua upaya pembunuhan. Pertama terjadi dalam perang 12 hari pada Juni 2025, dan kedua pada perang tahun ini ketika "Israel" menargetkan pertemuan rahasia para pejabat tinggi Iran di sebuah bunker bawah tanah. Dalam kedua insiden tersebut, Ghalibaf disebut berhasil diselamatkan dari reruntuhan.

Iran Minta Jaminan Keamanan

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa pada April lalu Ghalibaf dijadwalkan mengunjungi Islamabad untuk bertemu Wakil Presiden AS, . Namun aparat keamanan Iran khawatir "Israel" akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh Ghalibaf atau Araghchi demi menggagalkan perundingan.

Karena itu, Iran meminta jaminan kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan dan Qatar agar "Israel" tidak melakukan operasi rahasia terhadap delegasi Iran.

Menurut laporan tersebut, jet-jet tempur Pakistan mengawal pesawat yang membawa lebih dari 70 pejabat Iran sejak memasuki wilayah udara Pakistan hingga tiba di Islamabad, kemudian kembali mengawalnya saat penerbangan pulang menuju perbatasan Iran.

Ancaman keamanan kembali muncul setelah perundingan selesai. Aparat keamanan Iran memberi tahu pesawat yang ditumpangi Ghalibaf bahwa mereka menerima informasi intelijen mengenai rencana serangan "Israel", bahkan disebut ada dua jet tempur "Israel" yang memasuki wilayah udara Iran dari arah perbatasan Irak.

Akibat ancaman tersebut, pesawat terpaksa mendarat darurat di Kota Mashhad. Delegasi Iran kemudian melanjutkan perjalanan menuju Teheran melalui jalur darat selama sekitar delapan jam.

Menanggapi laporan The New York Times, seorang pejabat keamanan kepada stasiun televisi "i24 News" Israel mengatakan, "Israel, ketika ingin melenyapkan seseorang, maka mereka akan melakukannya."

(Samurmusa/arrahmah.id)