DARAA (Arrahmah.id) – Sebuah ponsel militer rahasia milik pasukan pendudukan "Israel" dilaporkan tertinggal di wilayah pedesaan Daraa, Suriah selatan, setelah pasukan tersebut mundur dari kawasan Tal al-Maghr usai melakukan penyusupan pada Ahad (28/6/2026).
Foto perangkat tersebut pertama kali dipublikasikan oleh kantor berita Suriah (SANA), kemudian memicu perhatian luas di media "Israel" karena diduga merupakan perangkat militer yang menyimpan informasi operasional penting.
Media "Israel" mengakui bahwa warga Suriah menemukan sebuah ponsel militer khusus bernama "Olar", perangkat yang dikembangkan untuk menggantikan peta kertas dalam operasi lapangan. Menurut laporan situs militer "Israel", perangkat itu tidak terhubung ke internet guna mengurangi risiko peretasan, namun tetap menyimpan peta digital berakurasi tinggi, sistem navigasi militer, serta aplikasi pendukung operasi taktis.
Juru bicara militer "Israel" menyatakan insiden tersebut "telah diketahui dan sedang diselidiki melalui jalur yang relevan."
Mundur di Tengah Perlawanan Warga
Surat kabar "Israel" Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa hilangnya perangkat tersebut bukan sekadar kelalaian individu, melainkan terjadi ketika pasukan "Israel" melakukan penarikan diri secara tergesa-gesa di tengah meningkatnya kemarahan warga Suriah.
Seorang tentara cadangan "Israel" mengatakan kerumunan warga sipil mendekati posisi pasukan "Israel" di sekitar Tal Kudna, sehingga pasukan terpaksa mundur.
Dalam situasi yang kacau itu, salah seorang prajurit dilaporkan kehilangan perangkat yang berisi data operasional dan peta militer.
Militer "Israel" disebut segera mengunci perangkat tersebut dari jarak jauh untuk meminimalkan potensi kebocoran data.
Di sisi lain, sejumlah warga Suriah membagikan foto batu-batu yang mereka gunakan untuk mengusir pasukan "Israel", disertai pesan bahwa wilayah mereka tidak akan menjadi jalur aman bagi pasukan pendudukan.
Perangkat Khusus Operasi Militer
Perangkat "Olar" mulai digunakan militer "Israel" sejak 2022 sebagai bagian dari modernisasi sistem komando lapangan.
Ponsel pintar tersebut dimodifikasi khusus untuk kepentingan militer dan dipisahkan sepenuhnya dari jaringan komunikasi umum demi menjaga keamanan informasi.
Perangkat itu memungkinkan komandan satuan mengakses peta digital yang dapat diperbarui, sistem navigasi di wilayah operasi, serta berbagai aplikasi untuk mendukung koordinasi pertempuran dan pengelolaan operasi taktis.
Sistem tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara unit intelijen lapangan, korps komunikasi, dan divisi pertahanan siber "Israel".
Penyusupan Terus Berlanjut
Insiden hilangnya ponsel militer itu terjadi di tengah berlanjutnya penyusupan pasukan "Israel" ke wilayah barat Daraa.
Laporan lapangan dari Suriah menyebutkan pasukan "Israel" yang terdiri atas enam kendaraan militer bergerak menuju Wadi al-Raqqad hingga Desa Jamla. Penembak runduk juga ditempatkan di Tal al-Maghr, sementara tembakan senapan mesin berat diarahkan ke lahan pertanian di sekitarnya.
Militer "Israel" mengklaim operasi tersebut dilakukan untuk menewaskan sejumlah kelompok bersenjata dan menegaskan akan terus melanjutkan operasi di apa yang mereka sebut sebagai "zona keamanan".

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam keras penyusupan dan serangan "Israel" di wilayah Daraa dan Quneitra, termasuk penembakan artileri yang dinilai meneror warga sipil.
Pemerintah Suriah menegaskan bahwa tindakan "Israel" merupakan pelanggaran berulang terhadap Perjanjian Pelepasan Pasukan tahun 1974, melalui penyusupan militer, penangkapan sewenang-wenang, perusakan properti, serta penghancuran lahan pertanian.
(Samirmusa/arrahmah.id)
