Memuat...

Pertahanan Sipil Gaza Peringatkan Perang di Gaza Tidak Pernah Berhenti, Pelanggaran 'Israel' Capai 3.000 Kasus

Zarah Amala
Senin, 1 Juni 2026 / 16 Zulhijah 1447 11:00
Pertahanan Sipil Gaza Peringatkan Perang di Gaza Tidak Pernah Berhenti, Pelanggaran 'Israel' Capai 3.000 Kasus
(Foto: tangkapan video)

(GAZA (Arrahmah.id) - Juru Bicara Pertahanan Sipil (Civil Defense) Jalur Gaza, Mayor Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan dan sektor pelayanan publik di wilayah kantong tersebut sedang bergerak menuju level katastrofe yang mengerikan. Dalam wawancara khusus dengan Al Jazeera Mubasher hari ini (1/6/2026), Basal menegaskan bahwa perang secara de facto tidak pernah berhenti meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan.

Basal menyoroti serangan udara terbaru yang menyasar kawasan Pelabuhan Gaza sebagai contoh nyata. Wilayah pesisir tersebut merupakan ruang terbuka utama bagi ribuan warga sipil untuk melepaskan tekanan psikologis dari kondisi hidup yang masif tertekan. Akibat pengeboman di area padat tersebut, sejumlah besar korban luka harus dilarikan ke Kompleks Medis Al-Shifa, bersamaan dengan korban luka dari lingkungan Zeitoun di timur kota yang dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Ahli Arab akibat rentetan tembakan artileri.

Otoritas Pertahanan Sipil membeberkan data kuantitatif yang menunjukkan tingginya angka korban jiwa, bahkan selama momen perayaan hari besar keagamaan baru-baru ini.

Selama empat hari perayaan Hari Raya Idul Adha, korban tewas akibat serangan militer dilaporkan telah melampaui 30 jiwa, yang didominasi oleh kelompok wanita dan anak-anak.

Sejak deklarasi gencatan senjata resmi diumumkan (Oktober 2025), militer 'Israel' diklaim telah melakukan lebih dari 3.000 kasus pelanggaran sepihak.

Rentetan pelanggaran tersebut telah menewaskan sedikitnya 938 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.800 orang, di mana komposisi wanita dan anak-anak mencapai 38 persen dari total korban.

Menghadapi tantangan kemanusiaan yang terus melonjak, Basal mengakui bahwa armada Pertahanan Sipil kini berada di ambang kelumpuhan operasional akibat keterbatasan fasilitas yang ekstrem.

"Kami mengalami kelangkaan akut pada pasokan bahan bakar, minyak pelumas, serta suku cadang yang dibutuhkan untuk menggerakkan kendaraan taktis dan alat berat operasional kami. Hal ini mengancam kemampuan tim dalam merespons insiden darurat dan pemadaman kebakaran ke depan," ungkap Basal.

Kondisi ini diprediksi akan kian memburuk dengan datangnya musim panas. Jutaan pengungsi saat ini terpaksa tinggal berdesakan di dalam ribuan tenda darurat yang minim infrastruktur dasar. Absennya pasokan gas elpiji memaksa warga beralih menggunakan metode memasak menggunakan api unggun/kayu bakar di dalam kamp, yang secara drastis meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hebat antar-tenda selama musim kemarau.

Pihak Pertahanan Sipil mengkritik keras sikap diam dan absennya tindakan nyata dari lembaga-lembaga internasional, para mediator, dan Dewan Keamanan PBB. Basal menilai klaim mengenai adanya perbaikan kondisi hidup atau kelancaran arus masuk bantuan makanan ke Gaza saat ini sama sekali tidak merefleksikan realitas objektif di lapangan.

Dengan kondisi kota yang dipenuhi puing-puing bangunan, tumpukan sampah di ruang publik, serta lumpuhnya fasilitas medis yang membuat ribuan pasien kritis tidak bisa berobat ke luar negeri, Gaza dinilai sedang dihadapkan pada skenario "kematian lambat" (slow death) jika tidak ada intervensi politik dan kemanusiaan internasional yang komprehensif dalam waktu dekat. (zarahamala/arrahmah.id)