Memuat...

Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa Ungkap Kehilangan 70% Kekuatan saat Memerangi ISIS, Kini Beralih dari Faksi ke Negara

Samir Musa
Senin, 3 Agustus 2026 / 20 Safar 1448 07:09
Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa Ungkap Kehilangan 70% Kekuatan saat Memerangi ISIS, Kini Beralih dari Faksi ke Negara
Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa dalam wawancara bersama Ali Al-Dhafiri di program Al-Muqabalah yang disiarkan Al Jazeera. (Al Jazeera)

DAMASKUS (Arrahmah.id) – Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa mengungkapkan perjalanan panjang yang membentuk pemikiran politik dan ideologinya, mulai dari masa kecil di Damaskus, pengalaman di Irak, hingga keterlibatannya dalam revolusi Suriah. Ia menegaskan bahwa seluruh pengalaman tersebut membawanya pada keyakinan bahwa masa depan Suriah harus dibangun melalui negara dan institusi, bukan melalui kelompok-kelompok bersenjata atau ideologi yang kaku.

Dalam bagian kedua program Al-Muqabalah yang disiarkan Al Jazeera, Ahad (2/8/2026), Asy-Syaraa menceritakan bagaimana lingkungan keluarga dan berbagai peristiwa besar di kawasan membentuk pandangannya sejak usia muda.

Ia mengenang masa kecilnya di kawasan Al-Mazzeh, Damaskus. Menurutnya, tempat seseorang tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap identitasnya. Bahkan, setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad, rumah masa kecilnya menjadi tempat pertama yang ia datangi ketika memasuki ibu kota.

Asy-Syaraa mengatakan keluarganya sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ayahnya merupakan lulusan ekonomi dan ilmu politik, sedangkan ibunya adalah guru geografi sekaligus penyair. Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya berasal dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki "Israel" sejak 1967, sehingga pengalaman terusir dari tanah kelahiran menjadi bagian dari sejarah keluarganya.

Menurutnya, kisah pengusiran dari Golan dan penderitaan rakyat Palestina yang selalu diceritakan ayahnya menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap persoalan umat sejak usia dini.

Mulai Mencari Makna Tanggung Jawab

Asy-Syaraa menjelaskan bahwa minatnya terhadap persoalan publik mulai tumbuh ketika memasuki akhir masa sekolah menengah. Saat itu kawasan Timur Tengah diguncang Intifadhah Kedua Palestina, perang, dan berbagai krisis yang mendorongnya mencari jawaban mengenai kewajiban seorang Muslim terhadap masyarakat.

Ia mengakui tumbuh dalam lingkungan yang dipengaruhi pemikiran nasionalisme Arab. Namun, menurutnya, baik arus nasionalisme maupun gerakan Islam saat itu belum mampu memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi umat.

Karena itu, ia memilih memperdalam pemahaman agama melalui Al-Qur'an secara langsung dan menolak sikap fanatik terhadap organisasi maupun pemikiran tertentu.

Asy-Syaraa juga menilai banyak gerakan Islam mengalami kegagalan karena menganggap hasil ijtihad manusia sebagai sesuatu yang tidak boleh dikritik atau diubah. Baginya, evaluasi dan pembaruan merupakan syarat penting bagi keberhasilan sebuah gerakan.

Pengalaman di Irak Mengubah Cara Pandang

Mengenang tahun 2003, Asy-Syaraa mengatakan dirinya berangkat ke Irak seorang diri sebelum invasi Amerika Serikat dimulai. Ia mengaku tidak berkoordinasi dengan pihak mana pun dan hanya meninggalkan sepucuk surat kepada keluarganya sebelum berangkat.

Di Irak, ia mendapati situasi jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan karena harus menghadapi pendudukan asing sekaligus konflik internal yang kompleks.

Ia kemudian ditahan selama sekitar lima tahun. Masa penahanan itu, menurutnya, menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia menghabiskan waktu dengan membaca, menulis, mempelajari sejarah, tafsir Al-Qur'an, hingga filsafat.

Asy-Syaraa juga mengungkapkan bahwa selama berada di Irak ia menggunakan identitas samaran bernama Amjad Muzhaffar Hussein, nama yang sebelumnya juga pernah digunakan ayahnya ketika tinggal di Baghdad.

Ia mengatakan pengalaman di Irak mengajarkannya bahwa Suriah tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Menurutnya, setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan yang seragam.

Kehilangan 70 Persen Kekuatan saat Memerangi ISIS

Berbicara mengenai revolusi Suriah, Asy-Syaraa menjelaskan dirinya kembali ke Suriah lima bulan setelah revolusi pecah pada 2011. Pada awalnya ia bergerak secara sembunyi-sembunyi sebelum kemudian membangun organisasi di lapangan.

Ia mengatakan revolusi Suriah pada awalnya terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki tujuan bersama untuk menggulingkan rezim. Namun situasi berubah ketika kelompok ISIS muncul dan memaksakan jalannya sendiri.

Menurut Asy-Syaraa, kelompok yang dipimpinnya kehilangan sekitar 70 persen kekuatan dalam pertempuran melawan ISIS.

"Saat senjata diarahkan ke sesama pihak di dalam negeri, biayanya jauh lebih besar," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai konfrontasi tersebut merupakan langkah yang tidak dapat dihindari demi menjaga arah revolusi agar tidak menyimpang dari tujuan awalnya.

Dari Faksi Menuju Negara

Asy-Syaraa menyebut pengalaman di Idlib menjadi laboratorium pertama untuk menerapkan konsep pemerintahan yang diyakininya.

Ia menjelaskan bahwa di wilayah tersebut dibangun berbagai lembaga sipil, universitas, proyek ekonomi, layanan keamanan, serta lapangan kerja, meskipun lebih dari separuh penduduknya merupakan warga yang mengungsi akibat perang.

Menurutnya, pengalaman itu menjadi bukti bahwa proyek yang dipimpinnya tidak hanya berfokus pada peperangan, tetapi juga pada pembangunan institusi yang mampu mengelola kehidupan masyarakat.

Pada akhir wawancara, Asy-Syaraa menegaskan bahwa Suriah saat ini memasuki fase pembangunan negara yang berlandaskan hukum dan institusi, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam proses rekonstruksi.

Ia juga menegaskan bahwa senjata harus berada sepenuhnya di tangan negara serta menyerukan reformasi besar untuk membangun Suriah berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan supremasi hukum.

(Samirmusa/arrahmah.id)