Memuat...

10 Syahid Gugur dalam Serangan Baru "Israel" ke Gaza, Tel Aviv Tolak Sejumlah Poin Kesepakatan Tahap Kedua Gencatan Senjata

Samir Musa
Ahad, 2 Agustus 2026 / 19 Safar 1448 17:18
10 Syahid Gugur dalam Serangan Baru "Israel" ke Gaza, Tel Aviv Tolak Sejumlah Poin Kesepakatan Tahap Kedua Gencatan Senjata
Jumlah syuhada sejak kemarin, Sabtu, telah meningkat menjadi lebih dari 16 orang. (Associated Press)

GAZA (Arrahmah.id) – Sedikitnya 10 warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, gugur syahid sejak Ahad (2/8/2026) dini hari akibat gelombang serangan udara intensif yang dilancarkan pasukan penjajah "Israel" di berbagai wilayah Jalur Gaza. Serangan ini terjadi meski pada Jumat lalu telah dicapai kesepakatan untuk melanjutkan tahap berikutnya dari gencatan senjata yang mencakup penarikan bertahap pasukan "Israel" dari Gaza.

Dilansir Al Jazeera, penjajah terus membombardir kawasan permukiman sipil di berbagai wilayah Gaza. Sebuah gudang obat-obatan milik Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir Al-Balah, Gaza tengah, juga menjadi sasaran serangan hingga mengalami kerusakan parah.

Menurut sumber medis, 10 warga Palestina syahid sejak Ahad dini hari. Korban di antaranya berasal dari Jabalia, Deir Al-Balah, Khan Younis, dan Kota Gaza.

Sebelumnya, hingga awal Ahad, jumlah syuhada akibat serangan sejak Sabtu telah mencapai sedikitnya 16 orang. Angka tersebut terus bertambah seiring berlanjutnya pelanggaran gencatan senjata oleh pihak "Israel".

Di Jabalia, sebuah pesawat nirawak "Israel" menyerang kawasan kamp pengungsi sehingga menewaskan seorang warga Palestina dan melukai beberapa lainnya.

Sementara itu, di Deir Al-Balah, serangan terhadap sebuah rumah mengakibatkan dua warga Palestina gugur syahid dan sejumlah lainnya terluka.

Di kawasan Al-Qararah, barat laut Khan Younis, serangan udara menghantam sebuah apartemen hingga menewaskan satu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan putri mereka, serta melukai tiga orang lainnya.

Pada Sabtu malam, serangan helikopter militer "Israel" terhadap sebuah apartemen di selatan Deir Al-Balah juga menewaskan sepasang suami istri. Serangan lain di Kota Gaza menewaskan seorang lansia dan seorang anak, sementara tiga warga lainnya, termasuk seorang anak, gugur dalam serangan terhadap bangunan permukiman di barat laut Khan Younis.

Menurut koresponden Al Jazeera, seluruh apartemen tersebut dibom secara langsung tanpa peringatan sebelumnya. Selain itu, pasukan penjajah juga menyerang kerumunan warga sipil di beberapa lokasi.

Prosesi pemakaman seorang anak Palestina yang gugur syahid dalam serangan udara "Israel" pada Ahad (2/8/2026). (Reuters)

Gudang obat rumah sakit dibom

Pada Sabtu, delapan warga Palestina gugur dalam serangan udara "Israel" di sejumlah wilayah Gaza.

Di Kota Gaza, serangan ke kawasan Kota Tua menewaskan satu orang, sementara dua warga lainnya gugur akibat serangan drone di kawasan As-Sina'ah. Serangan lain di Jalan Ats-Tsalatsini juga menyebabkan seorang warga Palestina syahid.

Beberapa jam sebelumnya, Kompleks Medis Nasser mengumumkan seorang warga meninggal akibat luka yang dideritanya dalam serangan di wilayah Mawasi, Khan Younis.

Rumah Sakit Asy-Syifa juga melaporkan dua syuhada akibat serangan di lingkungan Sheikh Ridwan, sedangkan Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa mengonfirmasi seorang syahid dan sejumlah korban luka dalam serangan di Deir Al-Balah.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa serangan terhadap gudang obat-obatan dan perlengkapan medis Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa menyebabkan kerusakan besar terhadap stok medis yang sangat dibutuhkan warga.

112 jenazah berhasil dievakuasi

Di sisi lain, tim Pertahanan Sipil Gaza menyelesaikan operasi pencarian jenazah di kawasan permukiman keluarga Al-Hasayinah/Abu Syari'ah di daerah Ash-Shabra, selatan Kota Gaza, yang sebelumnya dihancurkan penjajah di atas para penghuninya.

Selama sekitar 136 jam operasi, tim berhasil mengevakuasi jenazah dan bagian tubuh dari 112 syuhada, termasuk 40 anak-anak, 38 perempuan, dan tujuh penyandang disabilitas.

Namun, menurut Kolonel Muhammad Abu Dan, masih terdapat sekitar 157 jenazah yang diyakini tertimbun di bawah reruntuhan dan belum berhasil ditemukan.

Ia menjelaskan bahwa tim penyelamat menghadapi kesulitan luar biasa karena harus menggali reruntuhan besi dan beton dengan tangan. Banyak jenazah ditemukan menyatu dengan beton bertulang akibat dahsyatnya ledakan, bahkan sebagian lainnya hancur atau menguap karena kekuatan bom yang digunakan.

"Israel" keberatan isi kesepakatan

Eskalasi serangan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Dewan Perdamaian pada Jumat mengumumkan tercapainya kesepakatan pelaksanaan tahap berikutnya gencatan senjata Gaza.

Dewan Perdamaian merilis peta jalan berisi 15 poin yang mengatur tahap akhir rencana gencatan senjata, termasuk penarikan bertahap pasukan "Israel" dan pengaturan perlucutan senjata.

Namun, harian Haaretz melaporkan bahwa pemerintah "Israel" telah menyampaikan keberatan terhadap tiga poin utama dalam kesepakatan tersebut.

Menurut sumber yang dikutip Haaretz, tiga keberatan itu meliputi tidak dimusnahkannya senjata yang disita dari Hamas, keterlibatan Qatar dan Turki dalam mekanisme inspeksi, serta tidak diberikannya kebebasan penuh kepada militer "Israel" untuk beroperasi di wilayah yang nantinya berada di bawah tanggung jawab Pasukan Stabilitas Internasional.

"Israel" juga menolak ketentuan yang menyebutkan bahwa senjata yang dikumpulkan akan tetap berada di bawah kendali komite teknokrat Palestina karena dinilai tidak menjelaskan nasib akhir persenjataan tersebut.

Sumber politik menyebut keberatan tersebut telah disampaikan kepada mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang menjadi anggota Dewan Perdamaian.

Sementara itu, mekanisme dalam peta jalan menetapkan bahwa proses verifikasi akan melibatkan para mediator, Dewan Perdamaian, dan Pasukan Stabilitas Internasional guna memastikan setiap tahapan hanya dijalankan apabila semua pihak memenuhi komitmennya.

Hingga kini, penjajah "Israel" masih mempertahankan blokade ketat terhadap Jalur Gaza dan terus menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, pangan, serta obat-obatan, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan yang dialami lebih dari dua juta warga Palestina di wilayah tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)