Bagaimana caranya Ramadhan bisa menghantar suami dan istri ke surga?
Pasangan harus punya kesadaran dan niat menikah karena Allah dan berumahtangga secara islami. Rasulullah ﷺ bersabda:
« تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ».
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagus teori Al-Khawarizmi, penemu angka 0, Aljabar, dan Algoritma. Bahwa harta itu nilainya nol karena bakal habis. Kecantikan nilainya nol karena bakal pudar. Keturunan nilainya nol karena sampai di dunia saja. Tapi agama nilainya 1.
Bila si lelaki dapat empatnya berarti dia cuma dapat satu (0001). Tapi bila agama yang pertama, dia dapat seribu (1000). Subhanallah.
Menarik disimak kejadian di masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Seorang bapak membawa putranya menghadap amirul mukminin Umar. Dia mengadukan anaknya, “Wahai amirul mukminin, tolong nasihati anakku ini, dia bandel tidak nurut kepada bapaknya.”
Umar radhiyallahu ‘anhu melihat anak itu, tiba-tiba anak itu bertanya: “Wahai amirul mukminin! Apa hak seorang anak dari bapaknya?”
Pertanyaan yang sangat logis. Khalifah yang adil itu menjawab:
Ada tiga hak anak dari bapaknya:
- Pertama, memperoleh seorang ibu yang shalihah.
- Kedua, diberikan nama yang mulia.
- Ketiga, diajarkan Al-Qur’an.
Mendengar hal itu, anak tersebut menjawab:
“Demi Allah wahai khalifah, tiga-tiganya saya tidak dapatkan dari bapakku ini. Aku dipilihkan ibu seorang budak, ketika aku lahir diberi nama Ju'ul (artinya binatang kumbang yang makan kotoran), dan selama hidup saya tidak pernah diajari Al-Qur’an oleh ayahku ini.”
Mendengar penjelasan anak itu, Umar langsung melihat bapaknya sambil mengatakan dengan tegas:
“Jangan kamu salahkan anakmu karena kamu telah menanamkan kedurhakaan padanya.”
Begitu pentingnya keshalihan ibu bagi putra-putrinya. Bagi suami yang shalih, jangan sampai tidak mendapat istri yang shalihah, begitu pula sebaliknya.
Masalah lelaki dengan mudah diketahui keshalihannya: dia shalat berjamaah terutama Subuh dan Isya, bekerja di sektor yang halal, berbakti kepada kedua orang tuanya, berada di lingkungan yang baik, apalagi kalau berilmu.
Tetapi bagaimana cara melihat istri yang shalihah?
Nabi ﷺ memberikan resepnya:
« أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يكْنِزُ الْمَرْءُ ؟ اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ؛ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ ».
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Istri shalihah; yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud. Shahih di atas syarat Muslim)
Betapa beruntungnya seorang suami yang dikaruniai Allah istri yang shalihah. Karena seisi dunia ini yang paling berharga itu istri yang shalihah.
« الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ».
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)
Imam Asy-Sya'bi, ulama tabi’in, pernah berjumpa dengan kawannya Syuraih Al-Qadhi, hakim yang terkenal adil pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
“Wahai Syuraih, Anda terkenal hakim yang adil. Bagaimana dengan rumah tanggamu?” tanya Sya'bi.
Syuraih menjawab, “Aku sudah menikah 20 tahun dan sampai sekarang tidak pernah ribut sekalipun dengan istriku.”
Luar biasa, kok bisa?
Syuraih menjelaskan bahwa setelah akad nikah, ia masuk kamar pengantin lalu shalat dua rakaat sebagai rasa syukur kepada Allah. Ketika selesai salam, ia melihat istrinya juga shalat di belakangnya.
Kemudian ia hendak memegang ubun-ubun istrinya untuk mendoakannya sesuai sunnah. Namun istrinya berkata, “Sebentar,” lalu ia berkata:
Innal hamda lillah... amma ba’du...
“Aku bersyukur telah dikaruniai Allah seorang suami sepertimu, tapi aku tidak tahu latar belakangmu, tabiatmu, kebiasaanmu dan lingkunganmu. Tolong beritahukan kepadaku apa saja yang kamu sukai agar aku kerjakan, dan apa saja yang kamu benci agar aku tinggalkan.”
Syuraih menjawab dengan menyebutkan apa yang ia suka dan tidak suka.
“Sejak itu dia mempraktikkan semua ucapannya. Semua yang dilakukannya aku sukai, dan tidak pernah sampai hari ini dia melakukan sesuatu yang aku benci. Maka tidak ada alasan bagi kami untuk bertengkar.”
MasyaAllah, indah sekali.
Ayo kita benahi pasangan kita agar rumah tangga kita indah seperti Rasulullah ﷺ bersama Khadijah selama 24 tahun lebih rumah tangganya penuh ketenangan.
Prinsipnya kata Nabi ﷺ:
« خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي ».
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sahabat Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ bertanya:
“Apakah kamu mempunyai suami?”
Ia menjawab: “Ya.”
Beliau bertanya lagi: “Bagaimana sikapmu terhadapnya?”
Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengabaikannya kecuali dalam perkara yang memang aku tidak mampu.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
« فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ ».
“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu bisa menjadi jalan menuju surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad)
Rumah tangga kita dimotivasi oleh Allah agar sampai menjadi keluarga besar yang memiliki anak dan cucu.
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
Dan Allah menjadikan bagimu pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. (QS. An-Nahl: 72)
Bahkan para malaikat mendoakan agar sebuah keluarga dimasukkan ke dalam surga bersama-sama.
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, pasangan mereka, dan keturunan mereka.” (QS. Ghafir: 8)
Aamin.
(*/arrahmah.id)
