Memuat...

Stok Minyak Dunia Menipis, Harga Brent Terancam Tembus US$160 per Barel Jika Selat Hormuz Tetap Terganggu

Ameera
Sabtu, 6 Juni 2026 / 21 Zulhijah 1447 17:36
Stok Minyak Dunia Menipis, Harga Brent Terancam Tembus US$160 per Barel Jika Selat Hormuz Tetap Terganggu
Stok Minyak Dunia Menipis, Harga Brent Terancam Tembus US$160 per Barel Jika Selat Hormuz Tetap Terganggu

JAKARTA (Arrahmah.id) – Persediaan minyak global dilaporkan terus menyusut di tengah belum adanya kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga minyak berikutnya yang berpotensi mengguncang perekonomian dunia, meningkatkan inflasi, dan menekan pasar keuangan global.

Sejumlah analis dan pelaku industri energi memperingatkan bahwa stok minyak dunia saat ini berada pada level yang sangat rendah.

Apabila gangguan pasokan terus berlanjut, harga minyak mentah diperkirakan dapat melonjak tajam dalam beberapa pekan mendatang.

Wakil Presiden Senior Exxon Mobil, Neil Chapman, mengatakan dunia sedang mendekati kondisi persediaan minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kita sedang mendekati level persediaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Benar-benar sangat rendah. Mungkin ada perdebatan apakah kondisi itu akan terjadi dalam dua minggu atau tiga minggu ke depan. Namun, ketika titik itu tercapai, harga akan melonjak tajam," ujar Chapman seperti dikutip Reuters.

Menurut Chapman, apabila tren penurunan persediaan terus berlangsung, harga minyak Brent yang menjadi acuan lebih dari 60 persen perdagangan minyak dunia berpotensi melonjak hingga kisaran US$150 hingga US$160 per barel.

Selama empat bulan terakhir konflik yang melibatkan Iran, pelepasan cadangan minyak strategis serta stok komersial masih mampu menahan lonjakan harga energi global.

Namun, cadangan tersebut kini mulai terkuras, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya kembali normal.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan energi global, terutama menjelang meningkatnya konsumsi bahan bakar pada musim panas di berbagai negara.

Kepala Divisi Industri dan Pasar Minyak International Energy Agency, Toril Bosoni, menilai penurunan persediaan global dapat mencapai titik kritis bersamaan dengan melonjaknya kebutuhan bahan bakar musiman.

Sementara itu, Wakil Presiden dan Strategi Pasar Senior Rosenberg Research, Mehmet Beceren, menegaskan bahwa harga minyak akan menjadi instrumen utama untuk menyeimbangkan pasar ketika cadangan semakin menipis.

"Ketika bantalan cadangan itu semakin tipis, harga harus mengambil peran lebih besar dalam proses penyesuaian. Artinya, konsumen harus membayar lebih mahal atau permintaan akan turun dengan sendirinya," kata Beceren.

Ia memperkirakan titik kritis dapat terjadi pada akhir Juni 2026 apabila gangguan pasokan minyak global belum berhasil diatasi.

Jika skenario tersebut terjadi, dunia berpotensi menghadapi gelombang kenaikan harga energi baru yang dapat berdampak pada biaya transportasi, harga pangan, serta laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Para pengamat menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dunia.

Jalur pelayaran tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk dengan pasar internasional.

(ameera/arrahmah.id)