SANAA (Arrahmah.id) -- Abu Abd al Rahman al Maghribi dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik al-Sahab, sayap media utama kelompok militan al Qaeda yang selama bertahun-tahun memproduksi dan menyebarkan pesan, rekaman video, serta pernyataan kelompok tersebut. Sosok asal Maroko ini bukan hanya berperan dalam propaganda al Qaeda, tetapi kemudian juga masuk ke lingkaran kepemimpinan organisasi dan menjadi penghubung penting dalam komunikasi eksternalnya.
Dilansir Al Arabiya (24/9/2026), Al Maghribi memiliki nama asli yang disebut sebagai Muhammad Abbatay atau Mohamed Abbatay. Ia lahir di Maroko sekitar 1970 dan kemudian tinggal di Jerman, tempat ia dilaporkan mempelajari pemrograman komputer. Pada akhir 1990-an, ia melakukan perjalanan ke Afghanistan dan bergabung dengan lingkungan al Qaeda. Latar belakang teknologi tersebut kemudian menjadi salah satu keahlian yang dimanfaatkan organisasi dalam mengembangkan kemampuan medianya.
Menurut kajian Combating Terrorism Center (CTC) di West Point, al Maghribi mulai terlibat dalam kegiatan media al Qaeda di Kandahar. Ia bekerja bersama sejumlah tokoh yang kemudian dikenal luas karena keterlibatan mereka dalam jaringan al Qaeda, dan secara bertahap memperoleh posisi yang semakin penting dalam pengelolaan komunikasi organisasi tersebut.
Peran al Maghribi di al Sahab semakin menonjol setelah penangkapan Khalid Sheikh Mohammed pada 2003. Kajian mengenai sejarah al Sahab menyebut al Maghribi kemudian mengambil alih pengelolaan organisasi media tersebut dan mengawasi berbagai produksi yang dikeluarkan al Qaeda. Aktivitas itu mencakup penyebaran pesan dan rekaman yang digunakan organisasi untuk mempertahankan eksistensi propagandanya di tengah tekanan keamanan internasional.
Kedekatannya dengan kepemimpinan al Qaeda juga meningkat. Al Maghribi diketahui menikah dengan salah satu putri Ayman al Zawahiri, yang kemudian menjadi pemimpin al Qaeda setelah Osama bin Laden tewas pada 2011. Pemerintah Amerika Serikat juga menyebutnya sebagai menantu sekaligus penasihat senior al Zawahiri. Kedekatan tersebut menempatkannya tidak hanya sebagai pengelola media, tetapi juga sebagai bagian dari lingkaran internal kepemimpinan organisasi.
Dokumen yang ditemukan dalam operasi militer Amerika Serikat terhadap kompleks Osama bin Laden pada 2011 turut memberikan gambaran mengenai posisi al Maghribi. Pemerintah AS menyatakan dokumen tersebut menunjukkan bahwa ia telah menjadi figur yang semakin berpengaruh di dalam al Qaeda. Sejak 2012, ia disebut menjalankan fungsi sebagai manajer umum al Qaeda untuk Afghanistan dan Pakistan sebelum kemudian berpindah ke Iran.
Perannya kemudian berkembang dari pengelolaan media menjadi komunikasi eksternal organisasi. Menurut program Rewards for Justice milik Departemen Luar Negeri AS, al Maghribi memimpin External Communications Office al-Qaeda dan mengoordinasikan hubungan dengan berbagai afiliasi kelompok tersebut. Pemerintah AS menetapkannya sebagai Specially Designated Global Terrorist pada Januari 2021 dan menawarkan hadiah hingga US$7 juta untuk informasi yang membantu menemukan keberadaannya.
Al Sahab sendiri menjadi instrumen penting dalam mempertahankan kehadiran al Qaeda di ruang informasi. Sejumlah penelitian mengenai propaganda kelompok tersebut menunjukkan bahwa jaringan medianya tidak sekadar berfungsi sebagai saluran publikasi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem komunikasi organisasi yang berusaha bertahan menghadapi penangkapan anggota, operasi militer, dan gangguan terhadap infrastruktur digitalnya.
Dalam perkembangan yang lebih baru, Al Arabiya kembali mengulas al Maghribi dalam rangka melihat struktur internal dan sejarah al-Qaeda setelah 25 tahun serangan 11 September 2001. Pembahasan mengenai dirinya memperlihatkan bagaimana seorang anggota yang awalnya memiliki latar belakang teknologi dapat berkembang menjadi tokoh yang menggabungkan fungsi media, komunikasi, dan kepemimpinan dalam organisasi tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
