MOCHA (Arrahmah.id) - Kehidupan warga setempat di Mocha, Yaman, praktis terhenti sejak milisi Syiah Houtsi merebut kota pelabuhan strategis di Laut Merah itu pekan lalu; toko-toko tutup, sekolah-sekolah sepi, dan keluarga-keluarga lebih banyak berdiam di rumah.
"Saya sudah seminggu tidak pergi bekerja. Kalaupun keluar rumah, itu hanya untuk pergi ke toko bahan makanan karena kebutuhan mendesak," ujar Mahmoud (34) melalui sambungan telepon, seperti dilansir AFP (20/9/2026).
Pengemudi bus itu berbicara dengan syarat anonim karena khawatir akan pembalasan dari pihak Houtsi, yang menguasai kota di wilayah barat daya tersebut melalui serangan kilat bulan ini terhadap pasukan pemerintah yang diakui secara internasional.
Banyak warga sipil telah meninggalkan kota tersebut, yang dulunya memegang peranan penting dalam perdagangan kopi dan menjadi asal-usul nama minuman itu.
Toko-toko yang biasanya tetap buka hingga malam hari kini tutup jauh lebih awal, kata Mahmoud.
"Orang-orang merasa takut. Listrik memang menyala, tetapi pada pukul 8 malam, seluruh kota menjadi gelap gulita," ujarnya.
Setelah Houtsi masuk, puluhan ribu warga setempat mengungsi—banyak di antaranya menuju Aden, kota besar di selatan yang menjadi pusat pemerintahan.
Namun, "banyak keluarga yang tetap tinggal," terutama karena keterbatasan dana, kata Mahmoud, seraya menambahkan bahwa ongkos perjalanan bus menuju Aden telah melonjak drastis.
Setelah memasuki kota, pihak Houtsi "menghadapi keengganan warga yang memilih untuk berdiam diri di dalam rumah," kata Youssef, seorang guru berusia 45 tahun yang juga meminta namanya dirahasiakan.
Ia mengatakan bahwa "untuk saat ini, para orang tua menolak mengirim anak-anak mereka ke sekolah" di kota tersebut.
"Ada rasa cemas, takut, dan ketegangan yang terus-menerus."
Para orang tua telah melarikan diri dari wilayah kekuasaan Houtsi atau menolak menyekolahkan anak-anak mereka ketika milisi tersebut mengambil alih wilayah-wilayah pemerintah. "Orang-orang khawatir anak-anak mereka akan terpengaruh oleh propaganda Houtsi dan direkrut ke dalam barisan mereka," kata Maysaa Shuja Al-Deen, seorang peneliti di Sanaa Center for Strategic Studies.
Ia mengatakan bahwa ada pula warga yang meninggalkan wilayah kekuasaan Houtsi karena takut hidup di bawah sanksi berat AS yang menyasar kelompok tersebut, sementara yang lain merasa cemas akan tindakan keras terhadap LSM, jurnalis, dan pihak oposisi.
Di tengah kepanikan akibat ancaman pembalasan Houtsi yang melanda Mocha, sebagian warga berupaya mengambil langkah-langkah untuk menghindari hukuman.
"Saya tahu ada tetangga yang bahkan menghapus WhatsApp karena takut dituntut atau ditangkap," ujar Youssef.
"Rasa takut menyelimuti segalanya." (haninmazaya/arrahmah.id)
