GAZA (Arrahmah.id) -- Krisis air yang selama ini menghantam Gaza kini memunculkan persoalan baru bagi 'Israel'. Lima dari enam fasilitas utama desalinasi air laut 'Israel' sempat berhenti beroperasi selama beberapa hari setelah pipa pengambilan air tersumbat ledakan alga mikroskopis.
Sejumlah ilmuwan lingkungan mengatakan pembuangan besar-besaran limbah cair yang tidak diolah dari Gaza, setelah rusaknya infrastruktur pengolahan air limbah, menjadi salah satu faktor yang memperburuk pertumbuhan alga di Laut Mediterania.
Menurut laporan The Guardian (24/9/2026), penghentian sementara lima fasilitas desalinasi tersebut berpotensi menyebabkan kekurangan air di 'Israel' selama beberapa pekan. Fasilitas-fasilitas itu merupakan bagian penting dari sistem pasokan air 'Israel'.
Namun, badan air nasional 'Israel' Mekorot mengatakan sebagian besar rumah tangga 'Israel' tetap mendapatkan pasokan dan tidak mengalami kekurangan air minum yang parah karena cadangan dan sumber air lain digunakan untuk menutup sebagian kekurangan.
The Guardian melaporkan seluruh lima instalasi pengolahan air limbah di Gaza yang disebut dalam laporan tersebut tidak beroperasi. Omar Shatat dari Coastal Municipalities Water Utility mengatakan sekitar 45.000 meter kubik limbah cair yang belum diolah mengalir ke Laut Mediterania setiap hari, sementara sekitar 15.000 meter kubik lainnya merembes ke tanah melalui lubang penyerapan, terutama di kawasan permukiman dan tempat pengungsian.
Dampaknya tidak hanya menyangkut kualitas lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat Gaza. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada awal September memperingatkan bahwa kualitas air di Gaza memburuk dan kasus diare meningkat.
Pengujian terhadap sekitar 6.700 sampel air selama Januari-Agustus 2026 menunjukkan kontaminasi mikrobiologis meningkat dari kurang dari 6 persen pada Januari menjadi lebih dari 18 persen pada Agustus. Pada periode yang sama, kasus diare akut meningkat dari sekitar 27.000 menjadi lebih dari 48.000 kasus.
Otoritas Air Palestina sebelumnya melaporkan bahwa sekitar 55.000 meter kubik air limbah per hari dibuang tanpa pengolahan di Gaza. Sekitar 40.000 meter kubik mengalir langsung ke laut, sedangkan 15.000 meter kubik lainnya masuk ke lingkungan melalui lubang resapan dan kebocoran jaringan. Dari sekitar 74 stasiun pompa yang sebelumnya beroperasi, hanya 18 yang disebut masih berfungsi sebagian, sementara lima instalasi pengolahan air limbah utama telah berhenti beroperasi.
Di Gaza sendiri, persoalannya jauh lebih langsung. Kerusakan jaringan air dan sanitasi membuat banyak warga bergantung pada distribusi air menggunakan truk, sementara air yang tersedia tidak selalu aman.
Laporan The Guardian menyebut warga menghadapi pilihan sulit antara menggunakan air untuk minum atau menghematnya untuk mencuci tangan dan mencegah penyakit. Pembuangan limbah di sekitar kawasan pengungsian juga meningkatkan risiko paparan terhadap air tercemar.
Kondisi tersebut menunjukkan munculnya krisis lingkungan dan sanitasi yang berdampak lintas wilayah. Bagi Gaza, kerusakan infrastruktur air dan limbah telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat sehari-hari. Bagi 'Israel', gangguan pada fasilitas desalinasi menunjukkan bahwa pencemaran perairan di kawasan pesisir dapat menimbulkan konsekuensi terhadap sistem penyediaan airnya. (hanoum/arrahmah.id)
