TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sejumlah media 'Israel' melaporkan terjadinya rentetan insiden keamanan yang kritis dan fatal di wilayah Lebanon Selatan pada Ahad (24/5/2026). Situasi ini menyusul langkah kelompok perlawanan Lebanon, Hizbullah, yang mengintensifkan operasi peluncuran pesawat nirawak (drone) peledak dan roket terhadap pasukan pendudukan 'Israel'. Perkembangan ini memicu kekhawatiran mendalam di dalam negeri 'Israel' terkait melonjaknya jumlah kerugian personel serta efektivitas respons militer saat ini.
Eskalasi pertempuran ini pecah sebagai respons Hizbullah atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berulang yang dilakukan oleh militer 'Israel' terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah ditandatangani pada 17 April 2026.
Laporan media 'Israel' menyebutkan bahwa lebih dari 30 drone peledak diluncurkan oleh Hizbullah ke arah posisi militer 'Israel' di Lebanon Selatan serta wilayah utara Palestina yang diduduki sepanjang hari itu. Pihak media lokal menggambarkan situasi tersebut sebagai "hari paling sulit di Lebanon sejak gencatan senjata dideklarasikan."
Laporan terpisah mengonfirmasi sedikitnya dua tentara 'Israel' tewas seketika akibat hantaman drone peledak Hizbullah, dengan korban luka lainnya yang terus berjatuhan. Pihak otoritas dilaporkan telah mengonfirmasi dan memberi tahu seluruh keluarga korban terkait insiden ini.
Hizbullah merilis rekaman video yang mendokumentasikan keberhasilan serangan mereka terhadap sejumlah aset militer 'Israel' di kota Rashaf, termasuk penghancuran tank Merkava, kendaraan taktis, truk tanker militer, buldoser militer jenis D9, serta peralatan teknis stasiun pemantau. Rekaman tersebut juga memperlihatkan mundurnya pasukan 'Israel' dari sebagian wilayah yang menjadi target serangan.
Saluran televisi 'Israel', Channel 12, melaporkan bahwa para tentara yang beroperasi di Lebanon Selatan mengeluhkan kondisi mereka di medan perang yang kian rentan, dan mengibaratkan posisi mereka "seperti bebek di lapangan tembak" (ducks in a shooting range).
Stasiun televisi tersebut menyatakan bahwa skala peluncuran drone dan dampak destruktif yang dihasilkan, berdasarkan informasi yang diizinkan untuk dipublikasikan oleh sensor militer, menunjukkan keseriusan tantangan yang dihadapi Pasukan Pertahanan 'Israel' (IDF). Laporan tersebut menegaskan bahwa Hizbullah tidak hanya menunjukkan daya tahan, melainkan juga efektivitas tempur yang berkelanjutan.
Di sisi lain, laporan itu menambahkan bahwa pergerakan tentara 'Israel' di lapangan saat ini menjadi sangat terbatas akibat kalkulasi politik dan militer yang terikat oleh arahan Presiden AS Donald Trump. Kondisi ini dinilai membuat tangan para prajurit di lapangan terikat dalam mengambil tindakan ofensif.
Akibat tidak adanya solusi teknologi yang efektif dan instan untuk mengatasi ancaman pesawat nirawak peledak milik Hizbullah, badan penyiaran publik 'Israel', Kan, melaporkan bahwa para tentara di lapangan mulai mencari metode non-konvensional secara mandiri.
Menurut laporan Kan, sejumlah tentara 'Israel' baru-baru ini mendatangi para nelayan lokal di Danau Tiberias (Laut Galilea) untuk meminta jaring ikan. Jaring-jaring tersebut rencananya akan dimodifikasi dan dibentangkan di sekitar posko militer sebagai upaya perlindungan darurat guna menjebak drone yang datang mendekat. Insiden ini memicu perdebatan publik di media 'Israel' mengenai absennya solusi pertahanan udara taktis yang memadai dari komando tinggi militer.
Statistik Korban Cedera Terus Meningkat
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan 'Israel', grafik korban luka di pihak 'Israel' terus mengalami kenaikan. Otoritas mengumumkan tambahan 5 korban cedera baru, yang membuat total korban luka sejak pecahnya konflik regional (yang melibatkan perang AS-'Israel' terhadap Iran) menembus angka 8.831 orang.
Dari data komparatif tersebut, sebanyak 930 kasus cedera tercatat berkaitan langsung dengan konfrontasi di front Lebanon pasca-gencatan senjata dengan Iran pada 8 April 2026. Sementara itu, khusus untuk front Lebanon sendiri, tercatat sebanyak 515 tentara mengalami luka-luka sejak kesepakatan gencatan senjata bilateral Lebanon-'Israel' disepakati pada 17 April 2026 lalu. (zarahamala/arrahmah.id)
