Memuat...

Terbukti akan Menyerang Pasukan Khusus, Eks Pelaut AL AS Ditangkap

Hanoum
Selasa, 9 Juni 2026 / 24 Zulhijah 1447 03:42
Terbukti akan Menyerang Pasukan Khusus, Eks Pelaut AL AS Ditangkap
Bereen Dzayee. [Foto: Lynnwood Times]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Seorang mantan pelaut Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) berusia 25 tahun asal California ditangkap bersama dua tersangka lainnya setelah diduga terlibat dalam rencana menyerang personel militer AS, termasuk Pasukan Khusus (Special Forces), menggunakan drone dan granat berpeluncur roket (RPG). Penangkapan dilakukan oleh FBI dalam operasi yang disebut berhasil menggagalkan potensi serangan terhadap pasukan Amerika sebelum rencana tersebut terlaksana.

Berdasarkan dokumen pengadilan federal yang diungkap Departemen Kehakiman AS, seperti dilansir NBC (6/6/2026), tersangka utama bernama Bereen Dzayee (25) warga Lakeside, California, ditangkap bersama Bisaam Ghafoor (21) dari Kansas, dan Elias Shamsaldeen (21) dari California.

Ketiganya didakwa berkonspirasi memberikan dukungan dan bekerja sama kepada kelompok militan Islamic State (ISIS), organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris asing oleh pemerintah AS.

Penyelidikan mengungkap bahwa sejak Februari 2025 hingga Juni 2026 para tersangka diduga berkomunikasi melalui Discord, panggilan suara, dan berbagai platform pesan lainnya untuk membahas cara membantu ISIS.

Mereka disebut mengirimkan lebih dari US$2.000 kepada seseorang yang mereka yakini sebagai anggota ISIS untuk membeli drone dan RPG yang akan digunakan dalam serangan terhadap personel militer Amerika di luar negeri. Namun, orang tersebut sebenarnya merupakan sumber rahasia FBI yang terlibat dalam operasi penyamaran.

Menurut jaksa federal, Dzayee diduga mengusulkan agar sasaran serangan drone adalah personel Pasukan Khusus Amerika Serikat. Sementara itu, Shamsaldeen disebut menyatakan keinginannya melukai anggota militer AS, dan Ghafoor diduga menyampaikan berbagai pernyataan ekstrem yang mendukung aksi kekerasan atas nama ISIS.

Kasus ini terungkap setelah FBI memantau komunikasi para tersangka selama lebih dari satu tahun. Selain membahas pendanaan, mereka juga diduga mendiskusikan kemungkinan bergabung dengan ISIS di luar negeri dan menyatakan sumpah setia kepada kelompok tersebut serta pemimpinnya.

Direktur FBI, Kash Patel, memuji keberhasilan operasi tersebut. Dia mengatakan, "Para tersangka ini diduga bersumpah setia kepada ISIS, merencanakan berbagai serangan, dan bahkan menargetkan anggota militer Amerika, tetapi FBI berhasil menghentikan mereka."

Patel menambahkan bahwa operasi itu menunjukkan kemampuan aparat keamanan AS dalam mencegah aksi teror sebelum terjadi. Menurutnya, pencegahan dini merupakan cara paling efektif untuk melindungi warga negara dari ancaman kelompok ekstremis.

Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Kansas, Ryan A. Kriegshauser, menegaskan bahwa kasus tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme tidak selalu datang dari luar negeri.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan, "Kita harus menghadapi kenyataan bahwa ada pelaku berbahaya yang hidup di dalam perbatasan kita dan diam-diam merencanakan cara menciptakan ketakutan dan kekacauan."

Media lokal NBC San Diego melaporkan bahwa Dzayee merupakan mantan anggota Angkatan Laut AS yang pernah bertugas hingga 2024. Penangkapannya mengejutkan warga di lingkungan tempat tinggalnya di Lakeside, dekat San Diego, ketika tim taktis FBI mengepung rumahnya pada Jumat pagi.

Jika terbukti bersalah, ketiga tersangka menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara atas tuduhan konspirasi memberikan dukungan material kepada organisasi teroris asing. Sidang pendahuluan dijadwalkan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang, sementara penyidik masih menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam jaringan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)