Memuat...

18 Bulan dalam Penjara 'Israel', Massa di London Terus Desak Kebebasan dr. Hussam Abu Safiya

Zarah Amala
Rabu, 8 Juli 2026 / 23 Muharam 1448 10:51
18 Bulan dalam Penjara 'Israel', Massa di London Terus Desak Kebebasan dr. Hussam Abu Safiya
Massa di London terus mendesak kebebasan dr. Abu Safiya (Foto: tangkapan video)

LONDON (Arrahmah.id) - Ratusan pengunjuk rasa yang terdiri dari warga Palestina dan pendukung di Inggris kembali menggelar aksi solidaritas di depan kantor Perdana Menteri Inggris di London, Senin (6/7/2026). Mereka menuntut pembebasan segera dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, yang telah ditahan secara sewenang-wenang oleh otoritas 'Israel' selama 18 bulan.

Para pengunjuk rasa menyoroti kondisi dr. Abu Safiya yang dilaporkan berada dalam bahaya ekstrem. Pengacaranya, Nasser Odeh, mengungkapkan bahwa kliennya baru saja dipindahkan ke sel isolasi. Berdasarkan kunjungan terakhir dua hari lalu, dr. Abu Safiya terlihat dengan tangan dan kaki terborgol, serta menunjukkan tanda-tanda cedera parah pada bagian kepala dan wajah yang mengganggu pernapasannya.

​Odeh menegaskan bahwa kondisi ini merupakan akibat dari serangan brutal dan sistematis yang dialami kliennya setiap hari di dalam tahanan. Dalam pertemuan tersebut, dr. Abu Safiya bahkan menyatakan kekhawatiran bahwa ia mungkin tidak akan bisa menerima kunjungan lagi, mengindikasikan adanya kekhawatiran akan upaya eksekusi atau likuidasi di dalam penjara.

Dalam perkembangan penting, Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Senin (6/7) secara resmi menyatakan bahwa penahanan dr. Abu Safiya oleh 'Israel' adalah tindakan sewenang-wenang. Tim Kerja PBB untuk Penahanan Sewenang-wenang menegaskan dalam laporannya bahwa tindakan 'Israel' melanggar berbagai pasal dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. PBB mendesak 'Israel' agar segera membebaskannya tanpa syarat.

Di tengah tekanan massa, posisi pemerintah Inggris dinilai masih lemah. Menteri Timur Tengah di Kementerian Luar Negeri Inggris memang telah mengangkat isu perlakuan buruk terhadap dr. Abu Safiya kepada pihak 'Israel' melalui X, namun para pengunjuk rasa menganggap respons tersebut baru sebatas simbolis. Pengamat menilai posisi Inggris semakin sulit karena rencana pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer, yang diprediksi menghambat langkah tegas terhadap 'Israel'.

​Sementara itu, otoritas penjara 'Israel' membantah tuduhan penyiksaan terhadap dr. Abu Safiya maupun tenaga medis lainnya. Sebelumnya, Mahkamah Agung 'Israel' juga telah menolak memberikan komentar atau putusan atas banding hukum yang diajukan untuk membebaskannya.
​Aksi di London ini ditegaskan oleh para aktivis sebagai bagian dari rangkaian gerakan yang tidak akan berhenti selama dr. Abu Safiya masih berada di dalam tahanan, sebagai bentuk perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.(zarahamala/arrahmah.id)