ISLAMABAD (Arrahmah.id) - Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, mengklaim selama konferensi di Rawalpindi bahwa perdamaian dan stabilitas abadi di kawasan itu bergantung pada pencegahan penggunaan wilayah Afghanistan untuk kegiatan militan.
Ia menuduh bahwa Afghanistan memikul "tanggung jawab langsung" dalam hal ini dan menekankan bahwa Islamabad akan melanjutkan operasinya untuk melindungi Pakistan.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Angkatan Darat Pakistan mengklaim: "Forum tersebut menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas abadi di kawasan itu bergantung pada pencegahan penggunaan wilayah yang dikuasai Taliban Afghanistan oleh proksi teroris India, yang mana rezim Taliban Afghanistan bertanggung jawab langsung. Pakistan memiliki hak yang tidak dapat disangkal untuk membela rakyatnya dari terorisme."
Asim Munir menyampaikan pernyataan tersebut meskipun sebelumnya Imarah Islam mengumumkan bahwa, selama dua operasi yang dilakukan bulan lalu di Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa, mereka telah menargetkan apa yang mereka sebut sebagai tempat persembunyian ISIS dan para pendukungnya. Imarah Islam juga memperingatkan bahwa mereka akan menanggapi dengan tegas setiap pelanggaran wilayah Afghanistan, lansir Tolo News (8/7/2026).
Menurut Kementerian Pertahanan Imarah Islam, lokasi-lokasi yang menjadi sasaran telah digunakan untuk merencanakan kegiatan sabotase terhadap Afghanistan dan serangan terhadap warga sipil.
Analis politik Sayed Hayatullah Alami mengatakan: "Pakistan telah lama menjadi salah satu negara yang bertanggung jawab atas terciptanya krisis di Afghanistan. Para pemimpin Pakistan secara konsisten berupaya untuk menjaga agar Afghanistan tetap lemah."
Sementara itu, sejumlah diplomat dan peneliti Pakistan, yang berbicara pada konferensi tentang hubungan Afghanistan-Pakistan, menekankan bahwa dialog antara Kabul dan Islamabad harus diberi kesempatan melalui harapan yang realistis dan terukur. Para peserta juga menekankan bahwa kedua belah pihak harus mengadopsi pendekatan jangka panjang terhadap hubungan bilateral mereka.
Jurnalis Pakistan Tahir Khan mengatakan: "Mengenai perdagangan, ditekankan bahwa perdagangan menguntungkan rakyat kedua negara. Saya juga menghadiri konferensi tersebut, dan para peserta umumnya sepakat bahwa hubungan dengan Afghanistan harus kembali normal."
Ketegangan antara kedua negara meningkat pada Oktober tahun lalu menyusul dugaan pelanggaran wilayah udara Afghanistan oleh Pakistan dan serangan udara di beberapa provinsi Afghanistan timur. Sejak itu, beberapa putaran pembicaraan telah diadakan di Qatar, Turki, dan Cina. Namun, pertukaran verbal dan ketegangan perbatasan antara kedua negara belum sepenuhnya berakhir. (haninmazaya/arrahmah.id)
