WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa Iran menembak jatuh sebuah helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS yang sedang berpatroli di kawasan Selat Hormuz. Meski helikopter tersebut jatuh ke laut, kedua awaknya berhasil diselamatkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang melibatkan teknologi drone laut milik Angkatan Laut AS. Insiden yang terjadi pada Senin (9/6/2026) itu memperburuk ketegangan di Timur Tengah dan mengancam proses diplomasi yang tengah berlangsung antara Washington dan Teheran.
Menurut keterangan Presiden Trump, seperti dilansir CNN (9/6), helikopter Apache itu ditembak saat menjalankan patroli di atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Lokasi jatuhnya pesawat berada di dekat perairan Oman. Kedua pilot berhasil dievakuasi sekitar dua jam setelah insiden terjadi dan dilaporkan tidak mengalami luka-luka.
Melalui media Truth Social, Trump secara langsung menyalahkan Iran atas insiden tersebut. Donald Trump mengatakan, "Saya baru saja diberi tahu oleh militer kita bahwa Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kita saat berpatroli di Selat Hormuz. Kedua pilot selamat dan tidak terluka."
Trump juga menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan serangan tersebut berlalu tanpa respons. Donald Trump menyatakan, "Meski demikian, Amerika Serikat harus memberikan respons terhadap serangan ini."
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kedua awak berhasil diselamatkan setelah jatuh ke laut. Operasi penyelamatan dilakukan menggunakan kapal drone permukaan tanpa awak milik Angkatan Laut AS, yang untuk pertama kalinya digunakan dalam misi penyelamatan personel militer secara nyata. Operasi tersebut mendapat dukungan dari unsur Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan pasukan gabungan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah media internasional melaporkan bahwa insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan optimisme mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan baru dengan Iran. Sebelumnya, Trump bahkan mengatakan bahwa Washington dan Teheran berada dalam tahap akhir menuju kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan ketegangan kawasan.
Namun, penembakan helikopter tersebut berpotensi menggagalkan momentum diplomatik yang sedang dibangun. Para pengamat menilai insiden itu menjadi salah satu ujian terbesar bagi upaya perdamaian setelah beberapa hari sebelumnya Iran dan 'Israel' sempat menyepakati penghentian serangan langsung yang dimediasi Amerika Serikat.
Sementara itu, pejabat Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengakui telah menembak jatuh helikopter tersebut. Beberapa laporan media menyebut penyebab jatuhnya pesawat masih menjadi bagian dari penyelidikan militer, meskipun Trump dan sejumlah pejabat AS secara terbuka menyatakan Iran bertanggung jawab atas insiden itu.
Insiden di Selat Hormuz kembali menyoroti pentingnya jalur perairan tersebut bagi stabilitas global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat sempit yang memisahkan Iran dengan Oman itu. Setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasar energi internasional dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
