Memuat...

Trump Ancam Musnahkan Iran dengan Ribuan Rudal, Teheran Tegaskan Tak Akan Menyerah

Samir Musa
Sabtu, 11 Juli 2026 / 26 Muharam 1448 15:42
Trump Ancam Musnahkan Iran dengan Ribuan Rudal, Teheran Tegaskan Tak Akan Menyerah
Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran diwarnai pengibaran bendera-bendera yang menentang Trump. (Getty Images)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran. Ia menyatakan bahwa Teheran akan "dimusnahkan sepenuhnya" apabila pemerintah Iran melakukan atau berhasil menjalankan upaya pembunuhan terhadap dirinya.

Mengutip Al Jazeera, dalam unggahan di platform Truth Social pada Jumat (10/7/2026), Trump mengklaim bahwa sekitar seribu rudal telah disiapkan dan diarahkan ke Republik Islam Iran, disusul ribuan rudal lainnya apabila ancaman terhadap dirinya benar-benar diwujudkan.

"Saya telah memberikan perintah. Militer Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu menghancurkan seluruh wilayah Iran," tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul setelah sebelumnya Trump mengaku telah lama menjadi target utama ancaman pembunuhan dari Iran. Ia juga mengatakan laporan intelijen terbaru yang disampaikan Tel Aviv tidak mengubah penilaiannya bahwa ancaman tersebut telah berlangsung sejak lama.

Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap ancaman terbaru Trump. Namun, Teheran selama ini mengecam apa yang mereka sebut sebagai "intimidasi Amerika" dan menegaskan haknya untuk mempertahankan kepentingan nasional.

Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dalam KTT NATO. (Reuters)

 

Trump Buka Peluang Negosiasi, Tetapi Akhiri Gencatan Senjata

Di tengah retorika yang semakin memanas, Trump juga mengaku menyetujui dimulainya kembali pembicaraan dengan Iran yang sempat tertunda karena prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya berlaku telah berakhir.

"Iran meminta agar perundingan dilanjutkan. Kami menyetujuinya, tetapi kami juga telah memberi tahu mereka dengan sangat jelas bahwa gencatan senjata telah berakhir," tulis Trump.

Sebelumnya, Trump juga pernah mengancam akan menghancurkan peradaban Iran apabila tidak tercapai kesepakatan, meski ancaman itu kemudian ditangguhkan dengan syarat Iran menerima penghentian pertempuran.

Iran Bantah Meminta Perundingan

Berbeda dengan klaim Trump, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Teheran tidak pernah mengajukan permintaan untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Menurut pernyataan resmi, Iran hanya menerima kunjungan seorang mediator regional sebagai bagian dari upaya diplomasi terkait perkembangan terbaru. Teheran juga menyebut delegasi Qatar telah berkunjung ke Kota Mashhad untuk menerima penjelasan mengenai posisi Iran.

Televisi pemerintah Iran bahkan menyatakan bahwa Teheran belum siap melanjutkan pembicaraan karena menilai Washington tidak mematuhi butir-butir nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya.

Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO. (Reuters)

"Iran Tidak Akan Menyerah"

Ketua Parlemen Iran sekaligus tokoh utama dalam proses negosiasi, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat.

"Iran tidak pernah menginginkan perang, tetapi rakyat Iran juga tidak akan tunduk terhadap kezaliman," tegasnya.

Qalibaf mengaku telah menyampaikan langsung kepada Wakil Presiden AS JD Vance bahwa Iran sama sekali tidak mempercayai Amerika Serikat. Ia juga memperingatkan bahwa konflik tidak akan berakhir dengan menyerahnya Iran dan negaranya siap melakukan pembelaan menyeluruh apabila Washington melanggar kesepahaman yang telah dicapai.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pada Sabtu (11/7) bahwa Teheran telah memenuhi seluruh komitmennya dalam nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.

Pakistan, Mesir, dan Qatar Serukan Diplomasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Pakistan meminta Iran menjaga hasil-hasil perdamaian yang telah dicapai melalui proses diplomasi.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menekankan pentingnya pengendalian diri, dialog, dan diplomasi guna mencegah pecahnya kembali konflik.

Seruan serupa juga disampaikan Mesir dan Qatar. Kedua negara mendesak Washington dan Teheran untuk mengutamakan jalur diplomatik demi mencegah meluasnya konflik di kawasan.

Araghchi Kunjungi Oman Bahas Selat Hormuz

Di tengah situasi yang masih tegang, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertolak ke Oman untuk melakukan pembahasan mengenai Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa kunjungan tersebut difokuskan pada keamanan pelayaran di Selat Hormuz serta merupakan kelanjutan dari konsultasi yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sensitif dalam pembahasan antara Iran dan Amerika Serikat. Iran menginginkan pengaturan baru atas jalur pelayaran strategis tersebut, termasuk kemungkinan penerapan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintas, sebuah usulan yang ditolak oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya.

Meskipun sebelumnya telah dicapai kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang, kawasan tersebut masih diwarnai insiden keamanan yang sebagian besar berkaitan dengan sengketa mengenai Selat Hormuz.

(Samirmusa/arrahmah.id)