Memuat...

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Kesepakatan Damai Mulai Terbentuk?

Hanoum
Jumat, 12 Juni 2026 / 27 Zulhijah 1447 05:49
Trump Batalkan Serangan ke Iran, Kesepakatan Damai Mulai Terbentuk?
Presiden Donald Trump berbicara dengan wartawan sebelum menaiki Air Force One di Bandara Internasional John F. Kennedy di New York, Selasa pagi, 9 Juni 2026. [Foto : Mark Schiefelbein]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Kamis (11/6) malam waktu setempat. Keputusan tersebut diumumkan setelah muncul perkembangan diplomatik yang diklaim membuka jalan menuju kesepakatan damai antara Washington dan Teheran, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai tercapainya kesepakatan final.

Langkah Trump tersebut terjadi ketika konflik Amerika Serikat-Iran memasuki fase kritis setelah berbulan-bulan diwarnai serangan udara, aksi balasan rudal, serta ketegangan terkait jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Menurut laporan Axios, pembatalan serangan dilakukan setelah mediator dari Qatar melaporkan adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan pejabat tinggi Iran di Teheran. Salah satu poin yang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi selama 60 hari terkait program nuklir Iran.

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal dan Reuters (11/6), Trump mengumumkan bahwa operasi militer yang telah disiapkan dibatalkan karena para pihak dinilai telah menyetujui kerangka awal pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Namun, pemerintah AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran sampai kesepakatan resmi ditandatangani dan seluruh ketentuan dijalankan.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut peluang perdamaian kini lebih besar dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

“Kami sangat dekat dengan sebuah kesepakatan. Karena itu saya membatalkan serangan yang telah direncanakan,” kata Donald Trump dalam pernyataan yang dikutip media Amerika Serikat.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih bersifat sementara. Axios melaporkan bahwa hasil perundingan yang dicapai mediator Qatar masih memerlukan persetujuan akhir dari pimpinan tertinggi Iran sebelum dapat diberlakukan secara resmi. Sejumlah sumber diplomatik juga menyebutkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan mengenai masa depan program nuklir Iran dan pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sebelum pengumuman itu, Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan besar terhadap infrastruktur strategis negara tersebut apabila tidak ada kemajuan dalam perundingan. Namun beberapa jam kemudian, nada pernyataannya berubah dan lebih menekankan pentingnya penyelesaian diplomatik. Perubahan sikap tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington ingin menghindari eskalasi perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Sementara itu, media internasional melaporkan bahwa negara-negara kawasan seperti Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, Pakistan, Yordania, Bahrain, Kuwait, Mesir, dan Israel ikut terlibat dalam upaya diplomatik yang mendorong terbentuknya kerangka perdamaian baru. Dukungan dari negara-negara tersebut dinilai penting karena konflik AS-Iran telah mempengaruhi stabilitas keamanan dan ekonomi kawasan selama beberapa bulan terakhir.

Meski muncul optimisme, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Dalam beberapa hari terakhir kedua pihak masih saling melancarkan serangan terbatas, sementara ancaman terhadap jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang. Oleh karena itu, para diplomat dan pengamat internasional menilai pengumuman Trump lebih tepat disebut sebagai peluang menuju perdamaian daripada jaminan bahwa perang benar-benar telah berakhir.

Hingga Jumat (12/6), pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara eksplisit mengonfirmasi klaim Trump mengenai tercapainya kesepakatan. Ketidakpastian tersebut membuat dunia internasional masih menunggu apakah momentum diplomatik saat ini benar-benar akan menghasilkan perdamaian permanen atau hanya menjadi jeda sementara dalam konflik yang telah mengguncang Timur Tengah sejak awal tahun. (hanoum/arrahmah.id)