Memuat...

Trump Ultimatum Iran: Terima Kesepakatan atau Diserang Lebih Keras

Hanoum
Kamis, 11 Juni 2026 / 26 Zulhijah 1447 03:34
Trump Ultimatum Iran: Terima Kesepakatan atau Diserang Lebih Keras
Donald Trump. [Foto: Sarah Grillo/Axios. Foto: Majid Saeedi dan Stefani Reynolds/Bloomberg via Getty Images]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan militer yang lebih keras terhadap Iran setelah menuduh Teheran mempermainkan upaya negosiasi damai yang tengah berlangsung. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara menyusul serangkaian serangan balasan di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.

Dilansir The Independent (10/6/2026), Trump menyampaikan ultimatum tersebut kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (10/6) waktu setempat. Menurutnya, Amerika Serikat sebenarnya hampir mencapai kesepakatan dengan Iran, namun proses negosiasi berjalan terlalu lambat dan belum menghasilkan dokumen final yang dapat ditandatangani kedua pihak. Trump menilai pemerintah Iran sengaja mengulur waktu di tengah situasi keamanan yang terus memburuk.

"Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Mereka terus mempermainkan kami seperti orang bodoh," kata Trump merujuk pada proses perundingan yang menurut Trump tidak menunjukkan kemajuan meskipun Washington mengklaim telah memberikan jalan menuju penyelesaian diplomatik.

Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sasaran Iran sehari sebelumnya dan tidak menutup kemungkinan akan kembali melakukan operasi militer jika kesepakatan damai tidak segera tercapai.

Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa pemerintahannya masih membuka peluang diplomasi, tetapi siap menggunakan kekuatan militer apabila diperlukan.

"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini. Kita lihat saja apa yang terjadi dengan kesepakatan itu," tambahnya.

Ancaman terbaru Trump muncul hanya beberapa hari setelah Iran dituduh menembak jatuh helikopter Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Washington menyebut insiden tersebut sebagai salah satu alasan utama meningkatnya tekanan militer terhadap Teheran. Sementara itu, pemerintah Iran membantah berbagai tuduhan Amerika Serikat dan menilai tindakan militer Washington justru memperumit proses diplomasi.

Menurut sejumlah laporan media internasional, Amerika Serikat telah melakukan beberapa gelombang serangan terhadap fasilitas militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap aset dan personel militernya di kawasan.

Di sisi lain, Iran disebut melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, merespons ancaman terbaru dari Washington dengan menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan. Pezeshkian menyebut ancaman terhadap infrastruktur Iran bukanlah tanda kekuatan, melainkan cerminan keputusasaan pihak yang melontarkannya. (hanoum/arrahmah.id)