Memuat...

Usai Konflik Iran, Trump Singgung Serang Kuba

Hanoum
Ahad, 3 Mei 2026 / 16 Zulkaidah 1447 04:45
Usai Konflik Iran, Trump Singgung Serang Kuba
Presiden AS Donald Trump. [Foto: Sky News]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu kekhawatiran internasional setelah menyatakan kemungkinan langkah militer terhadap Kuba usai konflik dengan Iran.

Dilansir Anadolu Agency (2/5), pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan selama perang AS–Iran, ketika Trump menyebut bahwa Washington “mungkin akan mampir ke Kuba” setelah operasi militer di Timur Tengah selesai.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyinggung kemungkinan tindakan terhadap Kuba dengan nada tegas.

“Kami mungkin akan mampir ke Kuba setelah kami selesai dengan ini,” ujar Donald Trump, merujuk pada konflik dengan Iran.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh laporan media internasional lain yang menyebut Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan pengambilalihan Kuba secara cepat setelah perang berakhir, memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik baru di kawasan Karibia.

Secara waktu dan konteks, pernyataan ini muncul setelah konflik AS–Iran yang berlangsung sejak Februari 2026 dan memicu ketegangan global. Dari sisi pelaku, Trump sebagai kepala negara AS menyampaikan pernyataan tersebut, sementara Kuba menjadi pihak yang berpotensi terdampak.

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menanggapi pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk melakukan serangan terhadap negaranya dan memperingatkan bahwa setiap agresi akan mendapat perlawanan.

Situasi ini juga berkaitan dengan kebijakan AS yang semakin keras terhadap Kuba, termasuk sanksi ekonomi tambahan dan tekanan diplomatik yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah analis menilai pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi tekanan geopolitik, namun tetap berisiko meningkatkan ketegangan internasional. Selain itu, komentar tersebut dinilai kontras dengan janji politiknya sebelumnya untuk mengakhiri konflik, bukan membuka front baru.

Hingga kini, belum ada langkah militer konkret yang diumumkan oleh Washington terkait Kuba. Namun, pernyataan tersebut telah memicu perhatian luas komunitas internasional karena berpotensi memperluas konflik dari Timur Tengah ke kawasan Amerika Latin. (hanoum/arrahmah.id)