WASHINGTON (Arrahmah.id) - Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump merosot ke level terendah sepanjang masa jabatannya. Hasil survei terbaru dari Reuters/Ipsos yang melibatkan 4.557 responden dewasa di seluruh Amerika Serikat menunjukkan bahwa hanya 36% masyarakat yang menyetujui kinerja Trump, angka yang stagnan dibandingkan bulan sebelumnya.
Survei ini menyoroti kekhawatiran mendalam, bahkan di kalangan pemilih Partai Republik sendiri, mengenai stabilitas emosional dan ketajaman mental Presiden berusia 79 tahun tersebut.
Hanya 26% responden yang menganggap Trump sebagai sosok yang mampu menahan amarah. Ketegangan yang ditunjukkan Trump saat merespons isu perang Iran dan kritik dari Paus Leo XIV memicu keraguan publik.
Mayoritas responden (51%), termasuk 14% dari pemilih Republik, menyatakan bahwa kondisi mental Trump telah mengalami kemerosotan selama setahun terakhir.
Beban Perang dan Biaya Hidup
Ketidakpuasan publik ini berakar kuat pada dampak langsung perang yang dimulai sejak akhir Februari lalu. Tingkat kepuasan Trump terkait penanganan biaya hidup merosot hingga ke angka 26%. Lonjakan harga bahan bakar pascaperang Iran menjadi isu yang paling memukul popularitasnya.
Hanya 26% responden yang merasa bahwa biaya mahal dari keterlibatan militer di Iran sebanding dengan hasilnya. Selain itu, hanya 25% responden yang yakin bahwa serangan militer AS terhadap Iran membuat Amerika menjadi lebih aman.
Sentimen negatif ini diperparah oleh gaya komunikasi Trump yang agresif. Selain ancaman pemusnahan terhadap infrastruktur Iran, publik juga mencatat beberapa insiden kontroversial lainnya. Serangan verbal Trump terhadap Paus Leo XIV setelah Paus mengkritik perang Iran dinilai kontraproduktif oleh banyak pihak.
Ancaman Trump untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Denmark (anggota NATO) terkait isu Greenland telah memicu kecemasan di kalangan sekutu internasional.
Meskipun Trump sempat mengancam akan menarik AS dari NATO, survei menunjukkan bahwa hanya 16% warga Amerika yang mendukung langkah ekstrem tersebut.
Analisis dari hasil survei ini menunjukkan bahwa Trump kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Perang di Iran yang semula diharapkan menjadi panggung kekuatan, justru berbalik menjadi beban ekonomi dan politik yang mengancam kredibilitas kepemimpinannya di mata pemilih Amerika sendiri. (zarahamala/arrahmah.id)
