GAZA (Arrahmah.id) - Situasi keamanan di Jalur Gaza berada dalam ancaman serius menyusul serangkaian serangan terkoordinasi yang menargetkan aparat kepolisian Palestina dan warga sipil dalam 48 jam terakhir. Analis menilai tindakan ini sebagai bagian dari skenario terstruktur 'Israel' untuk melumpuhkan sistem keamanan internal Gaza dan menciptakan kekacauan di tengah kebuntuan diplomatik.
Pola serangan 'Israel' kini semakin terbaca melalui koordinasi antara serangan udara dan aksi lapangan oleh milisi lokal yang bekerja sama dengan pihak pendudukan. Pesawat nirawak (drone) 'Israel' menewaskan 3 personel polisi di persimpangan Al-Zaqzouq, Khan Yunis, sementara seorang polisi lainnya gugur akibat tembakan penembak jitu (sniper) di Gaza City.
Di Khan Yunis dan Rafah, terjadi pertempuran sengit antara faksi perlawanan dan kelompok milisi pro-'Israel'. Di Rafah, serangan membabi buta kelompok tersebut menewaskan seorang warga sipil, Rasha Abu Jazar (43), dan melukai 5 orang lainnya.
Pada Selasa pagi (21/4/2026), kelompok milisi dilaporkan menculik lebih dari 25 warga, termasuk perempuan dan anak-anak, di kawasan Zaytoun, Gaza City.
Menurut para pengamat, milisi-milisi ini tidak sekadar bertindak sebagai kaki tangan lapangan, melainkan telah menjadi "pemerintahan bayangan" yang dikendalikan oleh 'Israel'. Mereka digunakan untuk melakukan operasi yang terlalu berisiko bagi unit militer 'Israel' (seperti Mista'arvim), seperti pembunuhan terarah, penculikan, dan pengawasan di wilayah padat penduduk.
Milisi ini diketahui terlibat dalam operasional administratif seperti pengelolaan perbatasan (seperti di Rafah), di mana mereka mengklasifikasikan warga yang keluar-masuk wilayah Gaza di bawah pengawasan militer 'Israel'.
Pakar militer, Kolonel Hatem Karim Al-Falahi, menjelaskan bahwa penghancuran sistem kepolisian merupakan langkah terencana 'Israel' untuk meniadakan realitas administratif yang stabil di Gaza. "Israel memandang aparat kepolisian sebagai perpanjangan dari administrasi lokal yang ada, dan mereka menolak segala bentuk entitas keamanan yang tidak tunduk pada syarat keamanan ketat mereka," ujar Al-Falahi.
Respons Hamas dan Seruan Internasional
Hamas menegaskan bahwa tindakan ini adalah upaya sistematis pemerintah 'Israel' untuk menciptakan kekacauan dan melemahkan sistem keamanan domestik. Hamas mendesak pihak penjamin gencatan senjata, termasuk Amerika Serikat dan mediator lainnya, untuk segera menghentikan kejahatan yang melanggar kesepakatan tersebut.
Di sisi lain, penasihat kantor media pemerintah Gaza, Tayseer Muhaisen, menegaskan bahwa serangkaian serangan ini membuktikan bahwa gencatan senjata yang ada hanyalah formalitas belaka karena faktanya 'Israel' terus melakukan operasi militer di dalam kota melalui tangan para kolaborator.
Dunia internasional kini menghadapi tantangan berat untuk menjaga agar situasi di Gaza tidak jatuh ke dalam anarki total, terutama saat ancaman 'Israel' untuk memulai kembali perang skala besar terus digaungkan sebagai tekanan politik agar pihak Palestina melucuti senjata mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
