Memuat...

Kegagalan Total Operasi Milisi Pro-'Israel' di Khan Yunis, Taktik "Bantuan" yang Berujung Maut

Zarah Amala
Rabu, 22 April 2026 / 5 Zulkaidah 1447 10:02
Kegagalan Total Operasi Milisi Pro-'Israel' di Khan Yunis, Taktik "Bantuan" yang Berujung Maut
Rekaman yang beredar daring menunjukkan penyergapan yang dilakukan oleh kelompok perlawanan terhadap agen-agen 'Israel' di Khan Younis, Jalur Gaza selatan (platform media sosial).

KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Sebuah operasi penyergapan oleh pasukan keamanan perlawanan terhadap kelompok milisi pro-Israel di Khan Yunis, Gaza, pada Senin (20/4/2026), telah memicu diskusi luas mengenai dinamika keamanan internal di wilayah tersebut. Operasi ini tidak hanya menghancurkan kendaraan milisi, tetapi juga mematahkan narasi kendali keamanan yang coba dibangun kelompok tersebut.

Platform keamanan perlawanan, Rade’, mengungkapkan detail teknis operasi tersebut. Kelompok milisi yang dipimpin oleh Hussam Al-Astal, yang berbasis di area Garis Kuning di bawah perlindungan militer 'Israel', bergerak menggunakan tiga kendaraan tanpa pelat nomor.

Milisi memasuki area pengungsian dengan kedok mendistribusikan rokok dan uang tunai, sebuah strategi yang diduga bertujuan untuk menjadikan warga sipil sebagai tameng manusia.

Pasukan perlawanan yang telah memantau pergerakan ini sejak awal, menunggu hingga kendaraan berada di jarak aman dari pemukiman sipil. Kendaraan pertama dihancurkan dengan proyektil Tandem, diikuti serangan senjata ringan dan menengah pada dua kendaraan lainnya.

Menyadari kegagalan operasi, militer 'Israel' mengerahkan pesawat tempur untuk memberikan perlindungan guna mengevakuasi milisi yang tersisa, bahkan melakukan serangan udara terhadap kendaraan yang tertinggal untuk menghancurkan bukti sebelum jatuh ke tangan pihak perlawanan.

Pasca-kejadian, terjadi perang narasi yang kontras antara pihak perlawanan dan milisi. Hussam Al-Astal dalam videonya mengeklaim bahwa mereka melakukan misi kemanusiaan (distribusi bantuan) dan menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng.

Data visual yang beredar luas di platform digital membantah klaim Al-Astal. Rekaman menunjukkan bahwa penyergapan terjadi justru setelah kendaraan milisi meninggalkan titik kumpul warga, mementahkan klaim tameng manusia.

Para analis politik menilai insiden ini bukan sekadar pertempuran lokal, melainkan manuver strategis yang terkait dengan pembicaraan di Kairo. Kelompok milisi tersebut dinilai mencoba membuktikan kepada 'Israel' bahwa mereka mampu mengisi "kekosongan keamanan" di Gaza sebagai alternatif bagi Hamas guna memperkuat posisi tawar 'Israel' di meja perundingan.

Kegagalan operasi ini justru menimbulkan isolasi yang lebih dalam bagi kelompok tersebut, baik di mata masyarakat Gaza yang semakin antipati, maupun di mata operator militer mereka sendiri yang kini menyaksikan ketidakmampuan milisi tersebut menghadapi serangan terukur.

Keberadaan milisi ini berakar dari kebijakan yang diakui secara terbuka oleh Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, pada Juni 2025 lalu, yaitu mempersenjatai elemen lokal di Gaza untuk melawan Hamas.

Penyergapan ini menegaskan kembali pernyataan Brigade Al-Qassam pada Februari 2026 bahwa kelompok-kelompok kolaborator ini akan terus diburu. Dengan 72.000 lebih korban jiwa dan 90% infrastruktur yang hancur akibat perang selama dua tahun terakhir, setiap upaya untuk memecah belah solidaritas internal Gaza melalui milisi pro-pendudukan terus menghadapi perlawanan yang sangat keras dari berbagai elemen perlawanan Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)