KOLONBO (Arrahmah.id) – Dengan menggunakan pesawat khusus dan koordinasi tingkat tinggi, Iran berhasil memulangkan ratusan awak lautnya yang sempat terdampar di Asia Selatan, menyusul serangan militer yang menargetkan kapal-kapal mereka.
Dilansir Al Jazeera yang mengutip AFP, Rabu (15/4/2026), Sri Lanka telah mengembalikan 238 pelaut Iran yang sebelumnya terjebak setelah salah satu kapal perang mereka dihantam torpedo dari kapal selam Amerika Serikat.
Kronologi Pemulangan
Wakil Menteri Pertahanan Sri Lanka, Aruna Jayasekara, mengungkapkan bahwa 32 pelaut berhasil diselamatkan dari fregat “IRIS Dena” yang diserang di lepas pantai Sri Lanka pada 4 Maret lalu.
Sementara itu, 206 pelaut lainnya berasal dari kapal “IRIS Bushehr”. Mereka diberangkatkan menggunakan pesawat sewaan dan tiba di Teheran pada malam sebelumnya.
“Sebagian awak tetap tinggal untuk mengoperasikan kapal, namun 206 lainnya telah dipulangkan dan bergabung dengan korban selamat dari IRIS Dena,” ujar Jayasekara.
Sumber resmi menyebutkan, sekitar 15 pelaut Iran masih bertahan di Sri Lanka untuk menjaga operasional kapal yang kini berlabuh di perairan Trincomalee, timur laut pulau tersebut.
Tim medis Sri Lanka mengevakuasi jenazah para pelaut Iran yang tewas dalam serangan torpedo Amerika terhadap kapal “Dena”, 4 Maret 2026 (AFP).
Dampak Serangan Mematikan
Serangan terhadap IRIS Dena di Samudra Hindia menewaskan 104 pelaut Iran di awal perang Amerika–“Israel” melawan Iran. Dari jumlah tersebut, 84 jenazah berhasil ditemukan dan telah dipulangkan ke tanah air.
Duta Besar Iran untuk Sri Lanka, Ali Reza Delkhosh, sebelumnya menyatakan bahwa Teheran terus melakukan koordinasi dengan pemerintah Kolombo untuk memastikan keselamatan dan pemulangan awak kapal lainnya.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menegaskan bahwa negaranya memberikan perlindungan kepada awak kapal Iran sesuai dengan Konvensi Den Haag 1907, yang mengatur bahwa negara netral wajib menahan personel militer yang masuk wilayahnya hingga konflik berakhir.
Dalam upaya menjaga netralitas, Sri Lanka juga menolak memberikan izin kepada pesawat militer Amerika Serikat untuk menggunakan fasilitas pangkalan di wilayahnya.
Terjepit di Tengah Tekanan Global
Awal Maret lalu, kapal Iran lainnya, “IRIS Lavan”, yang membawa 183 awak, juga sempat mencari perlindungan di pelabuhan Kochi, India. Lebih dari 100 awak non-esensial kemudian dipulangkan.
Sementara itu, pemerintah Sri Lanka sempat memberikan visa sementara selama 30 hari kepada ratusan awak kapal “Bushehr” yang mengalami kerusakan mesin.
Kementerian Pertahanan Sri Lanka mengungkapkan bahwa komunikasi dengan pihak Iran terus berlangsung, namun langkah-langkah tersebut berada di bawah tekanan internasional.
Laporan sebelumnya dari Reuters bahkan menyebut adanya upaya Amerika Serikat untuk menghambat pemulangan korban selamat dari serangan terhadap IRIS Dena.
Kondisi ini menempatkan Sri Lanka dalam posisi sulit. Di satu sisi, negara tersebut sangat bergantung pada Amerika Serikat yang menyerap sekitar 40 persen ekspor tekstilnya. Namun di sisi lain, Iran tetap menjadi pasar strategis dan importir utama teh Sri Lanka.
(Samirmusa/arrahmah.id)
