Memuat...

10 Warga Malaysia Diculik Militer 'Israel' saat Pembajakan Armada Sumud Flotilla

Zarah Amala
Jumat, 1 Mei 2026 / 14 Zulkaidah 1447 09:23
10 Warga Malaysia Diculik Militer 'Israel' saat Pembajakan Armada Sumud Flotilla
Para warga negara Malaysia peserta Global Sumud Flotilla 2.0 yang diculik Israel di perairan Yunani, Kamis (30/4/2026). © Telegram/Anwar Ibrahim

KUALA LUMPUR (Arrahmah.id) - Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF2.0) menghadapi krisis serius setelah 22 kapal mereka dicegat dan dikuasai oleh pasukan militer 'Israel' di perairan internasional, Kamis (30/4/2026). Di antara 186 aktivis yang terlibat, terdapat 10 warga negara Malaysia yang hingga kini nasib dan keberadaannya belum diketahui secara pasti.

Direktur Jenderal Sumud Nusantara Command Center (SNCC), Datuk Sani Araby Abdul Alim Araby, menyatakan bahwa insiden berlangsung antara pukul 01.00 hingga 11.00 waktu Malaysia.

Pencegatan terjadi di perairan internasional dekat Kepulauan Yunani, sekitar 656 mil laut dari pesisir Jalur Gaza. Wilayah ini merupakan jalur pelayaran internasional yang dilindungi di bawah UNCLOS (Konvensi PBB tentang Hukum Laut).

Militer 'Israel' melakukan provokasi dengan melepaskan tembakan peringatan, melakukan sabotase frekuensi radio, serta mengerahkan puluhan drone pengintai untuk memantau dan mengganggu komunikasi armada.

Berdasarkan data SNCC, 10 warga Malaysia tersebut berada di atas kapal yang menjadi sasaran pencegatan:

  • Kapal Arkham III: Zainal Rashid Ahmad.

  • Kapal Eros 1: Osman Zolkifli dan Dr. Jihan Alya Mohd Nordin.

  • Kapal Bianca BCN: Hazwan Hazim Dermawan, Mohd Hanafi Mohd Salim, Ahmad Musa Al-Nuwayri Kamaruzaman, dan Norhelmi Ab Ghani.

  • Kapal Freia: Mohd Redzal Amzah.

  • Kapal Marea: Muhamad Muhsin Zaidi.

  • Kapal Esplai: Mohd Shamsir Mohd Isa.

Sani Araby menegaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dan jajaran kementerian terkait untuk meminta dukungan keamanan serta langkah diplomatik mendesak, terutama terhadap pemerintah Yunani dan Turki.

"Kami belum menerima informasi apakah mereka ditahan di atas kapal dan diperintahkan kembali, atau dibawa ke lokasi yang tidak diketahui. Kami berharap segera mendapatkan kabar terbaru," ujar Sani Araby dalam konferensi pers darurat di Kuala Lumpur.

Kecaman Keras Perdana Menteri Malaysia

Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, pada Kamis (30/4), mengeluarkan kecaman keras atas tindakan militer 'Israel' yang mencegat dan menguasai armada misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Dalam pernyataan resminya, PM Anwar menegaskan bahwa tindakan 'Israel' mencegat aktivis sipil di perairan internasional adalah bentuk pelanggaran hukum internasional yang nyata.

"Saya mengutuk tindakan kekerasan rezim Zionis Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional. Ini adalah pelanggaran nyata terhadap hukum maritim dan menyerupai tindakan perompakan yang mencemari prinsip kemanusiaan universal," ujar Anwar Ibrahim.

PM Anwar mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan konkret guna memastikan keselamatan seluruh aktivis. Beliau menekankan bahwa pihak militer 'Israel' bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan perlakuan terhadap para aktivis, serta menegaskan bahwa keselamatan seluruh aktivis, termasuk 10 warga negara Malaysia yang saat ini ditahan, harus dijamin tanpa kompromi.

Antisipasi dan Perbandingan dengan Insiden Sebelumnya

SNCC mengakui bahwa mereka telah mengantisipasi adanya upaya pencegatan oleh 'Israel'. Namun, pola intervensi kali ini dinilai berbeda dari insiden Oktober 2025 lalu. Jika pencegatan sebelumnya terjadi di "zona merah" (50 mil laut dari Gaza), kali ini 'Israel' melakukan intervensi jauh di perairan internasional. Hal ini, menurut SNCC, menunjukkan adanya peningkatan tekanan pada pasukan 'Israel' terkait besarnya dukungan global terhadap misi ini.

Misi GSF2.0 sendiri adalah koalisi internasional yang menggabungkan upaya maritim dengan mobilisasi global di daratan untuk menembus blokade atas Jalur Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk. Masyarakat Malaysia kini diminta untuk memberikan dukungan doa demi keselamatan para aktivis yang sedang menjalani misi tersebut.

Pemerintah Malaysia terus memantau situasi dan menuntut agar pihak berwenang 'Israel' segera menghentikan intimidasi terhadap misi kemanusiaan yang dilindungi oleh hukum internasional tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)