Memuat...

100 Ribu Warga Palestina Terjang Barikade 'Israel' Demi Shalat di Al-Aqsha

Zarah Amala
Sabtu, 28 Februari 2026 / 11 Ramadan 1447 12:49
100 Ribu Warga Palestina Terjang Barikade 'Israel' Demi Shalat di Al-Aqsha
TOPSHOT - Para jamaah Muslim melaksanakan shalat Jumat siang di kompleks Al-Aqsha di Kota Tua Yerusalem pada 27 Februari 2026, selama bulan suci Ramadan. (Foto oleh AHMAD GHARABLI / AFP) (Bahasa Prancis)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Sekitar 100.000 umat Muslim Palestina berhasil melaksanakan shalat Jumat kedua bulan Ramadhan di Masjid Al-Aqsha pada Jumat (27/2/2026). Jumlah ini tercapai di tengah pembatasan ketat dan prosedur keamanan berlapis yang diberlakukan oleh pasukan pendudukan 'Israel' di pintu masuk Kota Tua dan jalan-jalan menuju kompleks suci tersebut.

Ribuan warga dari Tepi Barat yang diduduki mengalir melalui pos pemeriksaan Qalandia di utara dan kubah Rachel di Bethlehem, meskipun 'Israel' hanya mengizinkan 10.000 pemegang izin khusus untuk masuk. Syarat usia yang ketat juga diberlakukan, yakni pria di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun.

Laporan lapangan menunjukkan bahwa otoritas pendudukan meningkatkan eskalasi keamanan guna membatasi jumlah jemaah. Setiap warga yang melintasi pos pemeriksaan harus menjalani pemeriksaan fisik dan identitas yang mendalam di bawah pengawasan ketat personel militer.

Dalam beberapa hari terakhir, 'Israel' mengeluarkan perintah larangan masuk ke Al-Aqsha bagi 280 warga Yerusalem, termasuk tokoh agama, jurnalis, dan mantan tahanan.

Pasukan 'Israel' mendirikan pos pemeriksaan statis dan bergerak di lorong-lorong Kota Tua untuk memantau pergerakan warga menuju Al-Haram Al-Sharif.

Pembatasan tahun ini terasa lebih menyesakkan sejak dimulainya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Selama dua tahun terakhir, kebijakan 'Israel' semakin represif sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengubah identitas Arab dan Islam di Yerusalem Timur.

Meskipun kapasitas Masjid Al-Aqsha mampu menampung ratusan ribu orang jika seluruh area terbuka dan tertutup digunakan, kebijakan blokade ini sengaja dirancang untuk memisahkan warga Tepi Barat dari pusat peribadatan mereka di Yerusalem. (zarahamala/arrahmah.id)