WASHINGTON (Arrahmah.id) – Seorang penulis Rusia, Valentin Tulski, menyoroti keputusan kontroversial Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang memecat Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Randy George, di tengah meningkatnya konflik militer dengan Iran.
Dalam artikelnya di media militer Rusia, Tulski menilai pemecatan tersebut bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan puncak dari konflik panjang antara kepemimpinan sipil di Pentagon dan jajaran militer profesional.
Konteks Pemecatan di Tengah Perang
Menurut Tulski, pemecatan terjadi saat operasi militer AS terhadap Iran memasuki fase krusial dan mulai keluar dari skenario awal yang disusun di Gedung Putih. Dalam kondisi genting itu, Angkatan Darat AS di bawah George justru memikul beban terbesar, termasuk pengerahan pasukan darat serta penguatan sistem pertahanan udara dan rudal.
Namun di saat risiko mencapai puncaknya, Hegseth justru mengganti kepemimpinan militer. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini kebetulan atau ada motif tertentu?
“Pembersihan” di Tubuh Militer
Tulski juga mengungkap bahwa pemecatan George bukanlah kasus tunggal. Sebelumnya, Hegseth telah mencopot Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal James Mingus, sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “pembersihan” terhadap para jenderal yang dianggap tidak sejalan dengan visi pemerintah.
Langkah ini menuai kritik keras, bahkan dari sejumlah mantan pejabat tinggi pertahanan AS. Di antaranya adalah James Mattis, mantan Menteri Pertahanan AS, yang memperingatkan bahwa militer berisiko dinilai berdasarkan loyalitas politik, bukan profesionalisme.
Benturan Dua Konsep Militer
Tulski menilai bahwa yang terjadi saat ini adalah benturan antara dua konsep dasar militer:
- Konsep tradisional: militer berada di bawah kendali sipil, tetapi tetap memberikan nasihat profesional secara jujur, meskipun tidak selalu sejalan dengan keinginan politik.
- Konsep baru versi Hegseth: militer sebagai alat politik yang harus patuh tanpa perdebatan—di mana loyalitas lebih diutamakan daripada kompetensi.
Menurutnya, pemecatan di tengah perang tanpa alasan operasional yang jelas mengirim pesan berbahaya: jangan berbeda pendapat, jangan mengkritik, dan jangan berpikir di luar garis kebijakan.
Ancaman dari Dalam
Lebih jauh, Tulski berpendapat bahwa ancaman terbesar bagi militer AS saat ini bukan berasal dari Iran, melainkan dari dalam negeri sendiri—yakni dari Washington.
Ia menyoroti bahwa militer AS yang selama ini dikenal sebagai institusi profesional kini mulai terjebak dalam konflik ideologis. Pergantian jenderal berpengalaman dengan sosok yang lebih dekat secara politik dinilai sebagai bentuk “perusakan internal”, meski dilakukan oleh otoritas resmi.
Sebagai contoh, posisi George digantikan oleh Jenderal Christopher LaNeve, yang sebelumnya merupakan asisten militer Hegseth—langkah yang dianggap memperkuat dugaan politisasi dalam tubuh militer.
Apa yang Terjadi di Balik Layar?
Tulski mengakui bahwa detail perdebatan internal di Pentagon tidak sepenuhnya diketahui publik. Namun ia menegaskan satu hal: pemecatan jenderal berpengalaman di tengah perang bukan sekadar urusan administratif, melainkan mencerminkan siapa yang sebenarnya mengendalikan mesin militer Amerika—dan untuk tujuan apa.
(Samirmusa/arrahmah.id)
