WASHINGTON (Arrahmah.id) – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Meski kedua pihak mengumumkan gencatan senjata, realitas di lapangan justru menunjukkan eskalasi senyap di Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi nadi pasokan energi dunia.
Laporan The New York Times menyebut situasi ini sebagai “perang kontrol”, di mana kedua negara sama-sama berusaha menguasai jalur laut strategis tersebut dengan cara masing-masing.
Di satu sisi, Washington secara terbuka menyatakan akan mempertahankan blokade laut terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa operasi ini akan terus berlangsung “selama diperlukan” demi memaksa Teheran tunduk pada kesepakatan damai permanen.
Sebaliknya, Teheran tidak tinggal diam. Melalui Korps Garda Revolusi Islam, Iran memperingatkan bahwa tidak ada satu pun kapal yang boleh melintas tanpa izin mereka. Bahkan, Iran disebut siap menggunakan taktik tidak konvensional, termasuk serangan mendadak dari posisi tersembunyi di wilayah pesisir.
Selat Hormuz Lumpuh, Kapal Menumpuk
Akibat tarik-menarik kekuatan ini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris lumpuh. Ratusan kapal dilaporkan tertahan di dalam Teluk, sementara banyak lainnya memilih menghentikan perjalanan karena ancaman ranjau laut dan serangan militer.
Iran sendiri mencoba menunjukkan dominasinya dengan mengizinkan sebagian kecil kapal melintas melalui jalur yang diawasi ketat di dekat pantainya. Langkah ini dinilai sebagai upaya menciptakan “kendali de facto” atas selat tersebut.
Lebih jauh, Teheran juga berpotensi menerapkan sistem izin dan pungutan bagi kapal-kapal yang melintas—sebuah indikasi bahwa Iran ingin beralih dari sekadar mengancam menjadi “pengelola” jalur strategis itu.
“Armada Nyamuk” vs Kekuatan Superpower
Meski mengalami tekanan militer, Iran masih memiliki kartu penting: strategi “armada nyamuk”. Taktik ini mengandalkan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi yang dilengkapi rudal dan drone untuk mengganggu kapal besar.
Sementara itu, Amerika mengandalkan keunggulan militernya dengan mengerahkan kapal perang serta pengawasan udara intensif. AS bahkan dilaporkan telah mencegat puluhan kapal dan memaksa sebagian kembali, serta menahan satu kapal—langkah yang oleh Iran disebut sebagai tindakan “perompakan”.
Namun demikian, tidak semua operasi AS berjalan mulus. Sejumlah kapal berhasil menembus blokade dengan trik manipulasi data pelacakan, menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan canggih sekalipun.
Dampak Global: Harga Minyak Melonjak
Krisis ini dengan cepat mengguncang pasar global. Harga minyak dilaporkan melonjak mendekati 100 dolar per barel, mempertegas betapa strategisnya Selat Hormuz dalam ekonomi dunia.
Situasi yang berkembang saat ini disebut sebagai fase “tanpa kendali penuh”, di mana tidak ada satu pun pihak yang benar-benar menguasai wilayah tersebut secara total.
Akibatnya, dunia kini berada dalam posisi rentan—menghadapi ketidakpastian pasokan energi dan potensi krisis yang bisa meluas kapan saja.
(Samirmusa/arrahmah.id)
