Memuat...

Serangan Mendadak Guncang Mali, Militan Islam Klaim Kuasai Sejumlah Kota Strategis

Hanoum
Ahad, 26 April 2026 / 9 Zulkaidah 1447 04:26
Serangan Mendadak Guncang Mali, Militan Islam Klaim Kuasai Sejumlah Kota Strategis
Seorang tentara Mali berdiri di posisinya dengan senjatanya selama serangan terhadap pangkalan militer utama Mali di Kati, di luar ibu kota Bamako. [Foto: Reuters]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Islam melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi ke sejumlah target vital di Mali, termasuk ibu kota Bamako, sekaligus mengklaim keberhasilan merebut wilayah strategis dan basis militer penting dalam eskalasi konflik terbaru di negara Afrika Barat tersebut.

Serangan terjadi pada Ahad (25/4/2026) dengan menyasar berbagai lokasi kunci, di antaranya kompleks kantor presiden di Koulouba, Kementerian Keuangan, serta Bandara Internasional Modibo Keita di Bamako. Selain itu, target militer di Kati—yang dikenal sebagai pusat kekuatan militer Mali—juga dilaporkan diserang dalam operasi yang berlangsung hampir bersamaan.

Menurut BBC (26/4), kelompok militan yang berafiliasi dengan jaringan jihad regional memanfaatkan serangan mendadak ini untuk menunjukkan kapasitas tempur mereka, sekaligus menekan pemerintahan junta militer Mali yang saat ini berkuasa.

Tidak hanya menyerang ibu kota, kelompok tersebut juga mengklaim keberhasilan besar di wilayah lain. Mereka menyatakan telah menguasai penuh kota Ménaka di timur, merebut barak militer penting di Ségou dan Gao, serta mengambil alih Kidal—kota strategis di wilayah utara yang selama ini menjadi titik konflik antara pemerintah dan kelompok bersenjata.

Konflik ini juga melibatkan pasukan asing, khususnya kelompok tentara bayaran yang memiliki keterkaitan dengan Rusia, yang dikenal sebagai Wagner. Dalam beberapa pertempuran, militan dilaporkan secara langsung menargetkan pasukan Mali dan elemen Wagner yang membantu operasi militer pemerintah.

Pemerintah Mali melalui otoritas militernya menyatakan bahwa situasi masih dalam kendali meski pertempuran berlangsung intens di sejumlah wilayah. Juru bicara pemerintah, Kolonel Abdoulaye Maiga, menegaskan bahwa operasi militer terus dilakukan untuk memukul mundur kelompok bersenjata tersebut.

“Kami menghadapi serangan terkoordinasi di beberapa titik, tetapi pasukan kami tetap bertahan dan melakukan operasi balasan untuk mengamankan wilayah,” ujar Abdoulaye Maiga dalam pernyataan resmi yang dikutip CBN.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya instabilitas keamanan di Mali, yang sejak beberapa tahun terakhir menghadapi pemberontakan kelompok ekstremis di wilayah utara dan tengah. Kondisi tersebut diperparah oleh dinamika politik domestik pasca kudeta militer dan perubahan aliansi keamanan, termasuk keterlibatan pihak asing.

Hingga kini, belum ada laporan resmi jumlah korban jiwa secara keseluruhan, namun sejumlah sumber menyebutkan adanya korban dari pihak militer maupun warga sipil akibat serangan dan pertempuran lanjutan.

Eskalasi terbaru ini menandai babak baru konflik di Mali, dengan kemampuan militan untuk menyerang pusat kekuasaan negara sekaligus memperluas kontrol teritorial mereka. Situasi ini juga meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas kawasan Sahel yang lebih luas. (hanoum/arrahmah.id)