Memuat...

150 Perempuan Jadi Polisi Pertama di Akademi Baru Suriah

Hanoum
Kamis, 24 September 2026 / 13 Rabiulakhir 1448 03:55
150 Perempuan Jadi Polisi Pertama di Akademi Baru Suriah
Polisi wanita Suriah diwisuda. [Foto: Arab News]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Sekitar 150 perempuan menjadi lulusan pertama akademi kepolisian perempuan yang baru dibentuk Suriah setelah menyelesaikan pendidikan selama enam bulan di Al-Tal, utara Damaskus. Kelulusan pada Selasa (22/9/2026) menjadi bagian dari upaya pemerintahan baru Suriah membangun kembali aparat keamanan sekaligus memperluas keterlibatan perempuan dalam institusi kepolisian.

Dilansir Arab News (23/9), upacara kelulusan berlangsung di Institut Kepolisian Perempuan di Al-Tal, Provinsi Rif Dimashq, dengan dihadiri Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab dan sejumlah pejabat pemerintah. Para lulusan mengikuti prosesi dengan mengenakan seragam kepolisian dan memperagakan sejumlah keterampilan yang mereka peroleh selama masa pendidikan.

Selama sekitar enam bulan, para peserta mendapatkan pelatihan fisik dan militer serta materi kepolisian, hukum, hak asasi manusia dan keterampilan lapangan. Direktur Institut Kepolisian Perempuan, Brigadir Jenderal Huda Sarjawi, mengatakan keterlibatan perempuan dalam sektor keamanan merupakan kebutuhan sosial sekaligus bagian dari peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Partisipasi perempuan dalam sektor keamanan merupakan kebutuhan sosial dan juga mendukung partisipasi perempuan di semua bidang,” kata Sarjawi sebagaimana dikutip AFP. Ia menyebut angkatan tersebut sebagai kelompok pertama polisi perempuan dalam apa yang disebutnya sebagai “Suriah baru”.

Menteri Dalam Negeri Anas Khattab juga menyebut kelulusan tersebut sebagai bentuk kehadiran dan kontribusi perempuan Suriah dalam melayani masyarakat dan negara. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan ditempatkan dalam berbagai unit di bawah Kementerian Dalam Negeri di sejumlah wilayah Suriah.

Bagi sebagian peserta, bergabung dengan kepolisian menjadi pilihan pribadi sekaligus kesempatan memasuki institusi negara yang sedang dibangun kembali. May Aklajneh (22) mengatakan kepada AFP bahwa ia sebelumnya berstatus mahasiswa dan memutuskan mendaftar ketika kesempatan bergabung dengan kepolisian dibuka. Ia menyebut menjadi polisi perempuan sebagai cita-cita sejak kecil.

Pembentukan akademi tersebut dimulai pada Maret 2026. Kementerian Dalam Negeri sebelumnya menyatakan program pendidikan mencakup pelatihan militer dan fisik, ilmu hukum dan kepolisian, keterampilan berinteraksi dengan masyarakat serta disiplin dalam menjalankan tugas keamanan.

Langkah tersebut berlangsung dalam proses restrukturisasi aparat keamanan Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar Assad pada akhir 2024. AFP mencatat bahwa perempuan sebenarnya telah menjadi bagian dari kepolisian dan militer pada masa pemerintahan Assad, tetapi jumlah mereka relatif terbatas. Pemerintahan baru kini tengah membangun kembali lembaga-lembaga keamanan, sementara posisi dan representasi perempuan dalam struktur keamanan menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.

Kelulusan 150 polisi perempuan itu dengan demikian tidak hanya menandai berakhirnya pendidikan angkatan pertama di akademi baru tersebut, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan struktur aparat keamanan Suriah. Para lulusan selanjutnya akan bergabung dengan unit-unit Kementerian Dalam Negeri di berbagai daerah, sementara pemerintah melanjutkan proses pembentukan dan penguatan institusi keamanan baru negara tersebut. (hanoum/arrahmah.id)