WASHINGTON (Arrahmah.id) - Amerika Serikat mengerahkan sekitar 9.000 personel militer ke Timur Tengah bersama sejumlah kapal perang, termasuk kelompok tempur kapal induk ketiga, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 marinir berada dalam rombongan kapal yang sedang menuju kawasan tersebut. Pengerahan ini mencakup kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt dan kelompok kesiapan amfibi USS Makin Island.
Jika seluruh kapal tiba sesuai jadwal, tiga kapal induk AS diperkirakan berada di kawasan Timur Tengah pada akhir Oktober. Jumlah personel Angkatan Laut dan Korps Marinir AS di kawasan itu juga akan melampaui 20.000 orang, ditambah ratusan pesawat.
Pengerahan tersebut berlangsung ketika Presiden Donald Trump kembali membuka kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November.
Dalam wawancara dengan Time yang diterbitkan Kamis (1/10/2026), Trump mengatakan serangan terhadap Iran setelah pemilu tersebut “mungkin” dilakukan. Ia juga mengatakan menolak proposal gencatan senjata terbaru dari Iran, termasuk tawaran untuk membuka kembali Selat Hormuz, karena menurutnya proposal tersebut belum cukup.
Trump juga mengatakan ada indikasi awal yang mengaitkan Iran dengan insiden penerbangan Flydubai yang mengalami kekacauan di kokpit pada Rabu (30/9).
Pesawat yang terbang dari Uni Emirat Arab menuju 'Israel' itu membawa 182 orang. Kopilot asal Oman diduga menyerang dan menusuk kapten sehingga pesawat mengalami penurunan tajam sebelum sejumlah penumpang masuk ke kokpit dan membantu mengendalikan situasi. Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi.
Ketika ditanya wartawan apakah terdapat hubungan antara pelaku dan Iran, Trump mengatakan, “berdasarkan apa yang saya dengar, ya,” tetapi menegaskan penyelidikan masih berlangsung. Ia tidak memberikan bukti atau rincian mengenai dugaan tersebut.
Trump kemudian mengancam akan melakukan tindakan keras jika keterlibatan Iran terbukti.
Sementara itu, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengatakan penyelidikan awal menunjukkan kopilot tersebut mengalami apa yang ia sebut sebagai “indoktrinasi Islam radikal”. Namun, motif serangan masih dalam penyelidikan dan sejumlah kemungkinan masih dipertimbangkan oleh aparat negara-negara yang terlibat dalam penyelidikan.
Ketegangan di Tengah Kebuntuan Diplomasi
Pengerahan militer AS berlangsung ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dengan Iran mengalami kebuntuan.
Trump sebelumnya menolak proposal terbaru Teheran yang antara lain menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Dengan tambahan kapal dan personel tersebut, kehadiran militer AS di Timur Tengah akan meningkat secara signifikan. AP melaporkan pengerahan itu dapat membawa tiga kelompok tempur kapal induk berada di kawasan tersebut pada akhir Oktober.
Di Inggris, aparat juga menangkap seorang warga berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran atas dugaan merencanakan serangan teror setelah sebuah insiden keamanan di pangkalan militer yang dikelola AS. Otoritas Inggris mengaitkan penyelidikan tersebut dengan Iran, meski rincian kasus masih dalam proses penyelidikan. (zarahamala/arrahmah.id)
