DETROIT (Arrahmah.id) — Identitas keislaman Abdulrahman “Abdul” El-Sayed kembali menjadi sorotan dalam pertarungan politik Amerika Serikat setelah dokter keturunan Mesir itu memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada 4 Agustus 2026 untuk memperebutkan kursi Senat AS dari negara bagian Michigan.
Kemenangan tersebut membuka jalan bagi Abdul untuk menghadapi kandidat Partai Republik Mike Rogers dalam pemilihan paruh waktu Kongres pada November mendatang. Namun, persaingan politik itu mulai bergeser menjadi perdebatan mengenai agama dan identitas Muslim di Amerika.
Abdul menegaskan dirinya tidak maju hanya untuk menjadi Muslim pertama yang menduduki kursi Senat AS. Ia mengatakan pencalonannya bertujuan memperjuangkan kepentingan warga Michigan, khususnya kelas pekerja.
“Saya tidak mencalonkan diri untuk menjadi yang pertama dalam hal apa pun. Saya mencalonkan diri untuk menjadi senator terbaik bagi Michigan dan memberikan sesuatu kepada kelas pekerja,” kata Abdul dalam pernyataan yang dikutip Newsweek.
Serangan terhadapnya meningkat setelah anggota DPR dari Partai Republik asal South Carolina, Nancy Mace, melontarkan kritik terhadap Muslim yang memegang jabatan publik di Amerika Serikat.
Melalui unggahan di platform X, Mace menyebut Muslim yang menduduki jabatan publik sebagai “bahaya bagi keamanan nasional dan republik kita” serta menyamakan mereka dengan “kuda Troya”.
Dalam wawancara dengan CNN, Mace juga memperingatkan mengenai dampak kemenangan Abdul. Ia bahkan mempertanyakan apakah suatu saat cucu perempuan warga Amerika akan mengenakan burqa ke sekolah.
Pernyataan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai serangan terhadap identitas agama Abdul sebagai bentuk Islamofobia.
Presiden Donald Trump kemudian ikut masuk dalam polemik tersebut. Trump mengunggah foto Abdul bersama istrinya, Dr. Sarah Jukaku, berdampingan dengan foto Trump bersama Ibu Negara Melania Trump di platform Truth Social. Ia menambahkan keterangan, “Amerika sangat berbeda.”
Abdul merespons dengan tenang. Dalam wawancara dengan CNN yang dikutip Newsweek, ia mengatakan Trump benar bahwa Amerika memang berbeda, tetapi memberikan makna yang berlawanan.
Abdul membandingkan Amerika yang dipimpin pasangan yang menurutnya tidak saling mencintai tetapi bersatu untuk mengejar miliaran dolar, dengan Amerika yang diwakili dirinya dan istrinya—pasangan yang saling mencintai dan ingin membangun negeri tempat mereka dapat membesarkan keluarga.
Serangan tersebut juga mendapat kecaman dari Council on American-Islamic Relations (CAIR). Direktur CAIR Nihad Awad menyebut unggahan Trump sebagai tindakan yang “anti-Islam”.
Menurut Awad, Amerika Serikat tidak dimiliki oleh satu ras atau satu agama. Ia menilai serangan terhadap Muslim Amerika pada akhirnya merupakan serangan terhadap gagasan tentang Amerika itu sendiri.
Di tengah polemik tersebut, Abdul memilih mengarahkan perhatian pada persoalan ekonomi dan keadilan sosial.
Ia mengatakan pertarungan sebenarnya bukan antara Muslim dan non-Muslim, melainkan antara kelompok elite yang mengejar kepentingan finansial dan keluarga-keluarga Amerika yang menginginkan kehidupan layak serta masyarakat yang adil.
Meski berusaha menempatkan isu ekonomi sebagai agenda utama, Abdul tidak menyembunyikan identitas keislamannya.
Dalam wawancara dengan Detroit Public Radio pada 2017, Abdul mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang beriman kepada satu Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan memerintahkannya untuk membangun dunia yang lebih adil dan setara.
“Ini berarti melayani semua orang,” demikian pernyataan Abdul yang dikutip Newsweek.
Abdul, yang kini berusia 41 tahun, merupakan seorang dokter keturunan Mesir. Jika menang dalam pemilihan November, ia berpotensi mencatat sejarah sebagai Muslim pertama yang menduduki kursi Senat Amerika Serikat dari Michigan.
Namun, lawannya dari Partai Republik, Mike Rogers, berusaha memanfaatkan perpecahan di dalam Partai Demokrat antara kelompok progresif dan pemilih moderat.
Dalam sebuah pesan video yang ditujukan kepada pemilih Demokrat yang menilai partai tersebut telah bergerak terlalu jauh ke kiri karena mendukung Abdul, Rogers mengatakan, “Kalian punya tempat bersama kami.”
Di sisi lain, Abdul juga memperoleh dukungan penting dari sejumlah tokoh Demokrat. Salah satu momen yang menjadi sorotan adalah percakapannya dengan mantan Presiden Barack Obama, di tengah upaya memperkuat persatuan internal Partai Demokrat di Michigan.
Dengan demikian, pertarungan Abdul di Michigan tidak lagi sekadar persaingan antara kandidat Demokrat dan Republik. Pemilihan tersebut berpotensi menjadi ujian lebih luas mengenai posisi Muslim, keberagaman agama, dan masa depan politik pluralistik di Amerika Serikat.
Jika serangan terhadap identitas keagamaan Abdul terus menjadi bagian dari kampanye, pemilihan Senat Michigan pada November mendatang dapat berubah menjadi salah satu pertarungan politik paling penting bagi representasi Muslim di Amerika.
(Samirmusa/arrahmah.id)
