Memuat...

Akademisi AS: 4 Hari Serangan ke Iran Setara 6 Bulan Perang Lawan ISIS

Hanoum
Jumat, 13 Maret 2026 / 24 Ramadan 1447 07:41
Akademisi AS: 4 Hari Serangan ke Iran Setara 6 Bulan Perang Lawan ISIS
[foto: The Economist]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Seorang akademisi Amerika Serikat menilai intensitas serangan militer terhadap Iran dalam empat hari pertama operasi militer setara dengan kampanye udara selama enam bulan saat koalisi internasional memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) di Irak dan Suriah. Analisis tersebut menggambarkan skala bombardir yang sangat besar dalam konflik terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Menurut Jessica Dorsey, salah satu direktur lembaga riset Realities of Algorithmic Warfare di Utrecht University, seperti dilansir Financial Times (13/3/2026), dalam enam bulan pertama operasi melawan ISIS pada 2014–2015, koalisi internasional hanya menyerang sekitar 2.000 target di Irak dan Suriah. Namun dalam konflik terbaru terhadap Iran, jumlah target yang hampir sama disebut telah dihantam dalam empat hari pertama operasi militer.

Skala serangan ini menunjukkan intensitas operasi militer yang jauh lebih agresif dibandingkan kampanye udara sebelumnya. Para analis keamanan menyebut bahwa operasi terhadap Iran bukan lagi sekadar serangan presisi terbatas, melainkan kampanye militer besar yang menargetkan infrastruktur militer, fasilitas nuklir, serta jaringan pertahanan udara negara tersebut.

Laporan media internasional juga mencatat bahwa konflik regional yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran telah berkembang menjadi perang yang lebih luas di Timur Tengah. Serangan udara besar-besaran telah menghantam ribuan target di Iran, sementara Teheran melancarkan balasan berupa serangan rudal, drone, serta gangguan terhadap jalur energi global.

Kampanye militer tersebut merupakan bagian dari konflik yang lebih besar setelah AS dan Israel meluncurkan operasi terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran terhadap pangkalan militer AS, wilayah Israel, dan sejumlah negara Teluk. Eskalasi ini juga berdampak pada pasar energi global serta keamanan kawasan.

Para pengamat menilai perbandingan antara operasi melawan ISIS dan serangan terhadap Iran menunjukkan perubahan signifikan dalam doktrin militer modern. Jika kampanye melawan ISIS berlangsung bertahap selama bertahun-tahun, konflik dengan Iran kini berlangsung dengan tempo serangan yang jauh lebih cepat dan skala target yang lebih luas.

Konflik yang terus berlangsung ini meningkatkan kekhawatiran internasional tentang potensi eskalasi perang yang lebih luas di Timur Tengah, terutama karena melibatkan beberapa kekuatan militer besar serta jaringan kelompok proksi di kawasan. (hanoum/arrahmah.id)