BIHAR (Arrahmah.id) -- Seorang pria di India membawa kerangka jenazah adiknya ke bank setelah berulang kali ditolak menarik tabungan milik korban, dalam insiden yang terjadi pada akhir April 2026 dan memicu perhatian luas terhadap prosedur birokrasi perbankan di negara tersebut.
Peristiwa ini terjadi di negara bagian Bihar ketika pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Umesh Kumar, mendatangi bank dengan membawa jasad adiknya, Manorama Devi, yang telah digali kembali dari makam. Ia mengaku terpaksa melakukan hal tersebut karena pihak bank menolak pencairan dana tanpa kehadiran langsung pemilik rekening.
Menurut laporan BBC News, CBS News, dan Free Malaysia Today (29/4/2026), pria itu sebelumnya telah mencoba menarik dana sekitar 300 dolar AS dari rekening sang adik, namun terkendala prosedur administrasi, termasuk verifikasi identitas yang ketat.
Insiden tersebut terjadi pada 29 April 2026 dan segera menarik perhatian publik setelah video kejadian menyebar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat kerumunan warga dan petugas bank yang terkejut atas tindakan tersebut.
Umesh Kumar menyatakan bahwa langkah ekstrem itu diambil karena frustrasi terhadap proses yang dianggap berbelit.
“Saya sudah berulang kali mencoba menjelaskan bahwa pemilik rekening sudah meninggal, tapi mereka tetap meminta kehadirannya. Karena itu saya membawanya ke sini,” ujar Umesh Kumar.
Pihak bank kemudian menghentikan proses dan melaporkan kejadian tersebut kepada otoritas setempat. Polisi segera turun tangan untuk menangani situasi, sementara jenazah kembali diserahkan untuk dimakamkan secara layak.
Laporan BBC News menyebut bahwa kasus ini menyoroti tantangan birokrasi dalam sistem perbankan, terutama terkait akses keluarga terhadap dana milik anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak bank terkait insiden tersebut. Namun, otoritas lokal dilaporkan tengah menyelidiki kejadian ini, termasuk kemungkinan pelanggaran hukum terkait pembongkaran makam.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena menunjukkan dampak nyata dari prosedur administratif yang tidak fleksibel, sekaligus memicu diskusi publik mengenai perlunya reformasi dalam sistem layanan keuangan agar lebih responsif terhadap kondisi darurat dan kemanusiaan. (hanoum/arrahmah.id)
