Memuat...

Artileri dan Drone 'Israel' Gempur Jabalia dan Khan Yunis, 5 Warga Palestina Gugur

Zarah Amala
Rabu, 29 April 2026 / 12 Zulkaidah 1447 10:14
Artileri dan Drone 'Israel' Gempur Jabalia dan Khan Yunis, 5 Warga Palestina Gugur
Warga Jalur Gaza berduka atas para korban serangan udara di Jalur Gaza (Reuters)

GAZA (Arrahmah.id) - Eskalasi kekerasan kembali memuncak di Jalur Gaza pada Selasa (29/4/2026), setelah serangan udara 'Israel' menewaskan lima warga Palestina, termasuk seorang anak berusia sembilan tahun, dan melukai enam lainnya. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan serangkaian serangan yang menyasar berbagai titik di Gaza. Seorang anak laki-laki bernama Adel Al-Najjar (9) tewas setelah diserang oleh drone 'Israel' di sebelah timur Khan Yunis. Di pusat kota, seorang pria berusia 30 tahun juga dilaporkan terluka akibat serangan rudal di sekitar Bundaran Abu Hamid.

Sebuah serangan udara menghantam kendaraan sipil di area Bundaran Haidar, sebelah barat Kota Gaza. Empat orang dinyatakan gugur dalam serangan ini, termasuk seorang ayah dan anak laki-lakinya.

Di area Al-Tawam, seorang wanita bernama Mona Al-Tayeb (49) mengalami luka kritis setelah ditembak oleh pasukan Israel. Penembakan juga dilaporkan terjadi di sekitar Kamp Mesir di area yang sama, bersamaan dengan pemboman artileri intensif di wilayah timur kamp pengungsi Jabalia.

Saksi mata di lapangan menegaskan bahwa sebagian besar wilayah yang menjadi sasaran serangan berada di luar kendali militer 'Israel', yang semakin menguatkan dugaan adanya pola serangan sistematis meski gencatan senjata secara resmi masih berlaku.

Hingga Selasa pagi (28/4), Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sejak gencatan senjata disepakati, serangan Israel telah menewaskan sekitar 818 warga Palestina dan melukai 2.301 lainnya.

Dampak Kumulatif Genosida

Data terbaru ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, dampak penghancuran di Gaza mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 72.000 warga Palestina gugur dan lebih dari 172.000 terluka.

Sekitar 90% infrastruktur sipil di seluruh Jalur Gaza hancur total akibat pengeboman intensif dan operasi militer yang didukung oleh Amerika Serikat.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah disepakati untuk mengakhiri agresi, pelanggaran harian yang terus terjadi menunjukkan rapuhnya komitmen perdamaian, yang terus menelan korban jiwa di kalangan warga sipil, termasuk anak-anak dan wanita. (zarahamala/arrahmah.id)