WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Hubungan Amerika Serikat (AS) dan India kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump memicu kemarahan publik dan pemerintah India lewat pernyataan kontroversial yang dianggap menghina negara tersebut, sehingga menimbulkan ketegangan baru dengan Perdana Menteri Narendra Modi.
Ketegangan ini mencuat pada akhir April 2026 setelah Trump membagikan ulang pernyataan di media sosial yang menyebut India sebagai “hellhole” dalam konteks kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah India yang menilai komentar itu tidak pantas dan merusak hubungan bilateral.
Kementerian Luar Negeri India secara resmi mengecam pernyataan tersebut dan menyebutnya tidak mencerminkan hubungan strategis kedua negara yang selama ini dibangun atas dasar saling menghormati.
Seorang pejabat pemerintah India menyampaikan sikap tegas terhadap pernyataan tersebut.
“Pernyataan tersebut tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak mencerminkan hubungan kuat antara India dan Amerika Serikat,” ujar pejabat Kementerian Luar Negeri India.
Ketegangan ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah laporan media internasional seperti DW dan The Guardian (28/4/2026) menyebut hubungan kedua negara sebelumnya sudah mengalami tekanan akibat kebijakan tarif tinggi AS terhadap produk India serta perbedaan sikap terkait impor minyak Rusia oleh New Delhi.
Bahkan, kebijakan tarif yang diterapkan Washington sejak 2025 sempat memicu krisis dagang antara kedua negara, dengan India menilai langkah tersebut sebagai tidak adil dan merugikan kepentingan nasionalnya.
Selain itu, isu geopolitik seperti perang Iran dan tekanan AS terhadap India untuk mengubah kebijakan energinya juga turut memperburuk hubungan bilateral.
Secara waktu dan lokasi, ketegangan ini terjadi pada April 2026 dengan dampak langsung pada hubungan diplomatik antara Washington dan New Delhi. Dari sisi pelaku, pernyataan Trump menjadi pemicu utama, sementara pemerintah India merespons secara resmi melalui jalur diplomatik.
Pengamat menilai insiden ini berpotensi mengganggu kerja sama strategis kedua negara, terutama di kawasan Indo-Pasifik yang selama ini menjadi fokus kolaborasi untuk menyeimbangkan pengaruh China.
Meski demikian, kedua negara masih memiliki kepentingan bersama di bidang ekonomi dan keamanan, sehingga sejumlah analis memperkirakan ketegangan ini akan diupayakan untuk diredam melalui jalur diplomasi dalam waktu dekat. (hanoum/arrahmah.id)
