Memuat...

Ibu Palestina Menuntut Pemulangan Tiga Anaknya yang Ditahan Otoritas Prancis

Zarah Amala
Rabu, 29 April 2026 / 12 Zulkaidah 1447 10:45
Ibu Palestina Menuntut Pemulangan Tiga Anaknya yang Ditahan Otoritas Prancis
Raghad menggugat kebijakan rasis pemerintah Prancis yang menahan tiga anaknya (Foto: tangkapan video)

PARIS (Arrahmah.id) - Sebuah kisah memilukan datang dari seorang ibu asal Gaza, Raghad Al-Sheikh, yang mengaku kehilangan akses total terhadap tiga anaknya setelah mereka dibawa paksa oleh sebuah asosiasi kesejahteraan di Prancis. Anak-anak tersebut, Rabhi (11), Nour (10), dan Hussam al-Din (8), kini berada dalam pengasuhan sebuah lembaga pemerintah Prancis tanpa komunikasi sama sekali dengan orang tua mereka selama satu tahun terakhir.

Tragedi ini bermula setelah keluarga tersebut melarikan diri dari perang di Gaza tiga tahun lalu. Saat tiba di Prancis bersama ayah dan kakek mereka, Raghad dianggap meninggal dunia karena sempat terputus kontak.

Keluarga tersebut sempat menjalin hubungan dengan wanita-wanita dari asosiasi Palestine Unites Us di Prancis yang mengaku sebagai sesama warga Palestina. Di bawah dalih tuduhan perlakuan buruk yang tidak didukung oleh bukti medis atau laporan fisik, para wanita tersebut membawa ketiga anak itu dari pengawasan ayahnya.

Meski ayah anak-anak tersebut telah menempuh jalur hukum, pengadilan Prancis memutuskan untuk menahan anak-anak tersebut di bawah pengasuhan lembaga pemerintah selama satu tahun, dengan larangan mutlak bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan mereka.

Raghad Al-Sheikh, yang akhirnya selamat dari perang dan bersatu kembali dengan suaminya, mengungkapkan kecurigaan mendalam terhadap pihak pengasuh di Prancis. Ia meyakini anak-anaknya tengah mengalami proses cuci otak untuk menanggalkan identitas ke-Palestinaan mereka.

"Mereka (pihak pengasuh) menanamkan pemahaman kepada anak-anak bahwa identitas Palestina mereka adalah penyebab dari segala masalah yang mereka alami," ungkap Raghad dengan nada getir.

Raghad menuding bahwa pihak pengasuh yang bertanggung jawab atas anak-anaknya memiliki sikap rasis yang ekstrem. Ia juga menyayangkan kurangnya dukungan hukum dari otoritas Palestina terkait kasus ini.

Bagi Raghad, keluarganya berhasil lolos dari genosida di Gaza, namun kini justru terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai rasisme masyarakat internasional yang terus mengejar warga Palestina di mana pun mereka berada. Ia menganggap otoritas Prancis telah melakukan tindakan penculikan terlegitimasi yang memisahkan keluarganya secara paksa daripada berupaya melakukan penyatuan keluarga.

Saat ini, Raghad terus menyuarakan tuntutan kepada pejabat berwenang dan komunitas internasional untuk mengembalikan ketiga anaknya. Ia menegaskan akan terus berjuang hingga dapat bersatu kembali dengan mereka, di mana pun mereka berada, agar anak-anaknya tidak kehilangan akar identitas dan keluarga mereka akibat tindakan sepihak lembaga pemerintah Prancis. (zarahamala/arrahmah.id)