TEL AVIV (Arrahmah.id) -- 'Israel' dilaporkan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan perubahan kebijakan nuklir Iran menyusul munculnya nama Mojtaba Khamenei sebagai figur berpengaruh pasca melemahnya peran Ali Khamenei, terutama terkait fatwa larangan senjata nuklir yang selama ini menjadi pijakan resmi Teheran.
Kekhawatiran tersebut mencuat pada akhir April 2026 dan dilaporkan sejumlah media internasional, yang menyebut kalangan keamanan 'Israel' menilai transisi kepemimpinan di Iran berpotensi membuka ruang reinterpretasi terhadap fatwa lama yang melarang pengembangan bom nuklir.
Dilansir CNN (28/4/2026), fatwa yang dikeluarkan Ali Khamenei sejak awal 2000-an menyatakan bahwa senjata nuklir bertentangan dengan prinsip Islam dan tidak akan dikembangkan Iran. Pernyataan tersebut selama ini menjadi bagian penting dalam posisi diplomatik Iran di tengah tekanan internasional terkait program nuklirnya.
Namun, belum adanya pernyataan resmi dari Mojtaba Khamenei terkait keberlanjutan fatwa tersebut memicu spekulasi. Sejumlah analis menilai bahwa dalam sistem politik Iran, fatwa dapat berubah sesuai pertimbangan strategis dan konteks keamanan.
Seorang analis keamanan 'Israel' yang dikutip media internasional menyatakan bahwa situasi ini menimbulkan ketidakpastian baru.
“Jika fatwa itu tidak lagi menjadi acuan, maka ada kemungkinan perubahan arah kebijakan nuklir Iran yang perlu diantisipasi,” ujarnya.
Laporan Reuters sebelumnya juga mencatat meningkatnya tekanan dari kelompok garis keras di Iran yang mendorong pengembangan senjata nuklir sebagai bentuk penangkal terhadap ancaman eksternal, termasuk dari 'Israel' dan Amerika Serikat.
Isu ini menjadi sensitif karena 'Israel' secara konsisten memandang potensi kepemilikan senjata nuklir oleh Iran sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara kedua negara meningkat, baik melalui operasi militer terbatas maupun konflik tidak langsung di kawasan.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran mengenai perubahan doktrin nuklirnya. Otoritas Teheran tetap menyatakan bahwa program nuklir mereka bertujuan damai, meskipun dinamika politik internal terus berkembang.
Perkembangan ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam fase ketidakpastian baru, di mana perubahan kebijakan strategis Iran berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut dan menjadi perhatian serius komunitas internasional. (hanoum/arrahmah.id)
