Memuat...

Fenomena Daycare yang Tidak Care: Menagih Kembalinya Peran Ibu

Oleh Hana Annisa Afriliani, S.SPenulis Buku dan Aktivis Dakwah
Rabu, 29 April 2026 / 12 Zulkaidah 1447 07:17
Fenomena Daycare yang Tidak Care: Menagih Kembalinya Peran Ibu
Ilustrasi. (Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja)

Kekejaman di Daycare atau tempat penitipan anak tengah menjadi sorotan pasca terkuaknya fakta kekerasan terhadap bayi dan balita di Daycare Little Alesha Yogyakarta beberapa waktu lalu. Sebagaimana dilansir oleh metrotvnews.com (26/4/2026) bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan tersebut berjumlah 53 orang. Adapun bentuk kekerasannya adalah tangan dan kaki diikat lalu ditidurkan di lantai tanpa menggunakan pakaian.

Kasus tersebut terkuak berkat adanya laporan dari seorang mantan pengasuh di Daycare tersebut sebagai saksi kunci. Ia membongkar adanya praktik tidak manusiawi di dalam Daycare tersebut. Fakta mengejutkan pun akhirnya ikut terungkap dalam rapat lintas instansi bahwa daycare dan TK tersebut beroperasi tanpa izin resmi alias daycare bodong. (Kompas.com/26/4/2026)

Little Aresha bukanlah yang pertama, fakta memilukan di dalam lembaga penitipan anak juga pernah terjadi di beberapa tempat lainnya. Seperti yang pernah terjadi di Daycare Depok pada tahun 2023 lalu, kasus kekerasan oleh pengasuh terhadap balita yang dititipkan di sana terekam CCTV dan rekaman tersebut viral di media sosial, sehingga memantik kemarahan publik. Tak hanya itu, tahun 2022 pun terjadi kekerasan di Daycare wilayah Jakarta Timur sehingga mengakibatkan seorang anak mengalami luka lebam di tubuhnya.

Mewabahnya Daycare, Imbas Kapitalisme

Maraknya Daycare di negeri ini merupakan konsekuensi logis dari massifnya narasi pemberdayaan perempuan ke dunia kerja. Ya, sistem kapitalisme memang senantiasa menarik kaum perempuan, termasuk para ibu, untuk berlomba-lomba terjun ke ruang publik. Atas nama pembedayaan, mereka dilibatkan dalam aktivitas ekonomi dalam rangka membantu para suami. Ada pula yang semata-mata tujuannya adalah prestise, karena adanya anggapan bahwa perempuan yang memiliki penghasilan sendiri lebih berharga ketimbang sekedar ibu rumah tangga yang bergantung hidup pada suami. Akibatnya, para perempuan di sistem kapitalisme ini berbangga diri mengejar karier tinggi demi dianggap sebagai perempuan mandiri.

Namun di sisi lain, sebagian besar perempuan ikut ambil bagian dalam dunia kerja adalah karena terpaksa. Impitan ekonomi dan beban hidup yang kian berat, membuat penghasilan suami saja tak mencukupi, akhirnya para ibu harus berjibaku pula mengais pundi-pundi rupiah. Ini pun sama, para ibu itu merupakan korban kapitalisme yang telah menciptakan kehidupan yang sulit akibat tata kelola negara yang jauh dari syariat. Rakyat kecil harus berjuang sendiri menghidupi keluarganya, sementara negara tidak terlalu peduli. Perannya sebatas regulator antara penyedia layanan yang notabenenya banyak dipegang oleh swasta dan rakyat sebagai konsumen. Ironis!

Kapitalisme menjadikan para perempuan tercerabut dari fitrah utamanya sebagai seorang ibu dan manager di dalam rumahnya. Para perempuan sibuk mencari nafkah, bersisian dengan para laki-laki. Kesibukan inilah yang pada akhirnya memunculkan ide membuat Daycare. Anak-anak yang orangtuanya bekerja dititipkan di sana seharian. Hampir di setiap kota ada layanan ini, menunjukkan betapa banyaknya anak-anak yang kehilangan pengasuhan dari orangtuanya sendiri. Dan lagi-lagi sistem kapitalisme pandai memanfaatkan situasi, demi cuan aneka Daycare pun bertebaran di mana-mana.

Mengasuh Anak, Kewajiban Seorang Ibu

Fenomena ini sungguh sangat memukul nurani. Sebab sejatinya, jika kita kembalikan kepada konsep Islam bagaimana memandang soal pengasuhan anak, maka kita akan memahami bahwa kewajiban ibu lah mengasuh dan mendidik anaknya. Adapun bekerja bagi seorang perempuan hukumnya mubah alias boleh yang berarti pilihan. Ketika perempuan memilih bekerja, tentu saja ia wajib untuk tetap memperhatikan peran utamanya sebagai ibu. Di sinilah semestinya para perempuan lebih mampu menetapkan skala prioritas. Jangan sampai demi melakukan sesuatu yang mubah, kewajiban utamanya justru terbengkalai. Tentu saja akan ada dosa yang mencintainya ketika amanah tidak ditunaikan. Apalagi jika bekerjanya perempuan tersebut bukan karena kebutuhan ekonomi yang mendesak, melainkan sebatas prestise, sungguh ini semestinya dievaluasi kembali.

Sistem Islam Menjaga Fitrah Keibuan

Kekerasan yang terjadi di Daycare semakin membuka mata kita bahwa ada kerusakan sistemis yang terjadi sehingga semuanya saling terhubung ibarat rantai setan. Jika tidak ada narasi sesat yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga adalah beban suami dan wanita karier kedudukannya lebih tinggi ketimbang ibu rumah tangga, tentu saja tak akan ada para perempuan yang sibuk mengejar karier demi mendapatkan validasi manusia.

Dan andai saja penguasa mengelola negeri ini berbasis Islam, tentu saja tidak akan ada kezaliman yang menciptakan kesenjangan tajam antara si kaya dan si miskin. Andai pula penguasa menjalankan amanah kepemimpinannya dengan berbasis takwa, tentu saja akan benar-benar serius melayani rakyatnya, bukan malah menjadikan rakyat sumber kekayaan pribadi mereka lewat sederet pungutan yang mencekik. Dengan itulah, pada akhirnya tak akan ada para perempuan yang terpaksa harus meninggalkan anak-anaknya di Daycare demi menyambung hidup.

Sungguh, semestinya kita semakin menyadari akan rusaknya sistem kehidupan yang diterapkan hari ini. Bukannya menciptakan kesejahteraan, justru sistem kapitalisme malah melahirkan aneka kesengsaraan dan kezaliman. Sungguh, hanya dengan diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan, baik di ranah pribadi, masyarakat, bahkan bernegara, niscaya manusia akan hidup sesuai fitrahnya. Sistem Islam adalah sistem terbaik yang diwariskan untuk manusia karena Islam bersumber dari wahyu ilahi, bukan nafsu manusia.

Adapun potret peradaban gemilang ketika Islam diterapkan secara kaffah dapat terlihat sejak Rasulullah saw membangun Daulah Islam di Madinah hingga masa kekhilafahan Bani Ustmaniyyah. Sepanjang sejarah itulah, kaum ibu terjaga fitrahnya sebagai pencetak generasi emas pengisi peradaban mulia. Mereka tidak disibukkan dengan urusan nafkah, melainkan sibuk mengasuh dan mendidik generasi menjadi sosok-sosok intelektual dan berjiwa pejuang. Semua itu, karena berjalannya kehidupan saat itu diatur dengan syariat Islam, sehingga semua berjalan sesuai fitrah penciptaannya. Wallahu'alam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya