Memuat...

‘Tentara Perampok’? Skandal Penjarahan Guncang Militer ‘Israel’ dari Dalam

Samir Musa
Selasa, 28 April 2026 / 11 Zulkaidah 1447 20:22
‘Tentara Perampok’? Skandal Penjarahan Guncang Militer ‘Israel’ dari Dalam
“Latihan militer tentara Israel di kota Nazareth (aljazeera)

TEL AVIV (Arrahmah.id) — Krisis serius tengah menghantam tubuh militer Zionis, bukan hanya dari sisi operasional, tetapi juga dari dalam: runtuhnya disiplin dan nilai moral yang selama ini diklaim sebagai fondasi kekuatan mereka.

Dalam sebuah artikel yang dimuat media Ibrani Haaretz, dua analis keamanan nasional Israel, Ofer Shelach dan Adit Shafran Gitelman, memperingatkan bahwa tentara yang kehilangan nilai dan disiplin tidak akan menjadi lebih kuat, melainkan berubah menjadi “kelompok bersenjata liar” yang pada akhirnya menuju kekalahan di medan perang.

Peringatan ini bukan datang dari luar, melainkan dari dalam lingkaran elit keamanan Zionis sendiri—memberi bobot serius terhadap krisis yang tengah berlangsung.

Peringatan Keras dari Kepala Staf

Kepala Staf militer Zionis, Eyal Zamir, bahkan secara terbuka mengakui adanya fenomena berbahaya di tubuh tentaranya. Dalam pidato di hadapan pimpinan militer, ia memperingatkan tentang maraknya praktik penjarahan oleh tentara.

Zamir menegaskan bahwa fenomena tersebut, jika benar terjadi, adalah “perilaku tercela yang dapat mencoreng seluruh citra tentara Israel.” Ia juga berjanji akan melakukan investigasi dan tidak membiarkan kasus tersebut berlalu begitu saja.

Namun, laporan Haaretz menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar kasus individu, melainkan gejala yang lebih luas—sebuah tanda munculnya citra baru yang mengkhawatirkan: “tentara perampok”.

Dari Penjarahan Menuju Keruntuhan

Menurut analisis tersebut, perang panjang yang terus berlangsung telah menciptakan kondisi yang mendorong perilaku menyimpang. Kelelahan pasukan, tekanan mental, serta melemahnya otoritas komando menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan internal.

Kasus penjarahan yang dilaporkan terjadi di wilayah seperti Gaza dan Lebanon selatan bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa, tetapi indikator dari runtuhnya batas antara tentara profesional dan kelompok bersenjata tak terkendali.

Para analis menekankan bahwa pasukan cadangan 'Israel' tidak dirancang untuk menjalani ratusan hari pertempuran setiap tahun selama bertahun-tahun. Kondisi ini mempercepat degradasi moral dan identitas militer mereka.

Zamir memperingatkan tentang fenomena penjarahan di dalam tentara (Associated Press)

Perang Panjang, Mentalitas Brutal

Lebih jauh, artikel tersebut mengungkap bahaya yang lebih dalam: perubahan cara pandang tentara terhadap musuh. Perang berkepanjangan disebut telah membentuk mentalitas di mana setiap warga Palestina atau Lebanon dipandang sebagai target yang layak “dihancurkan atau dipermalukan”.

Ini menunjukkan bahwa krisis bukan hanya pada perilaku, tetapi juga pada pola pikir—sebuah transformasi yang berpotensi mengubah struktur moral tentara secara permanen.

Tekanan Politik Perparah Krisis

Situasi semakin rumit dengan tekanan politik internal di Israel. Para pemimpin politik, termasuk anggota parlemen dan kabinet keamanan, dilaporkan kerap menyerang pimpinan militer secara terbuka.

Rapat kabinet yang seharusnya bersifat strategis bahkan berubah menjadi ajang kritik terhadap petinggi militer, memperlemah otoritas komando di tengah situasi perang.

Menuju “Tentara Tanpa Kendali”?

Zamir sendiri mengakui bahwa tahun 2026 kemungkinan masih akan menjadi “tahun pertempuran” di berbagai front, termasuk di Gaza, Suriah, dan Lebanon. Artinya, kondisi yang melahirkan fenomena ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Kombinasi antara perang tanpa akhir, tekanan politik, dan degradasi moral membuat pertanyaan besar muncul di dalam masyarakat Zionis: apakah militer mereka masih mampu menjaga disiplin dan identitasnya, atau justru tengah berubah menjadi “tentara tanpa kendali”?

Jika peringatan dari dalam tubuh mereka sendiri tidak segera ditindaklanjuti, maka apa yang kini disebut sebagai “penyimpangan” bisa menjadi wajah baru permanen dari militer Israel.

(Samirmusa/arrahmah.id)