Memuat...

AS Mulai Kehabisan Opsi? CENTCOM Minta Ide “Tak Konvensional” untuk Menekan Iran

Samir Musa
Selasa, 4 Agustus 2026 / 21 Safar 1448 15:50
AS Mulai Kehabisan Opsi? CENTCOM Minta Ide “Tak Konvensional” untuk Menekan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mengevaluasi ulang strategi menghadapi Iran setelah seorang pejabat intelijen di Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) meminta para analis militer mengajukan gagasan yang “baru, kreatif, dan tidak konvensional” untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Permintaan tersebut memunculkan pertanyaan baru: apakah Washington masih mencari cara yang lebih efektif untuk memaksa Iran mengubah sikapnya, atau justru mulai menghadapi batas efektivitas kekuatan militernya?

Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026), persoalan yang dihadapi AS bukan semata kemampuan militernya melancarkan serangan tambahan, melainkan bagaimana mengubah keunggulan militer itu menjadi hasil politik yang hingga kini belum tercapai.

Permintaan yang Tidak Lazim

Menurut sejumlah sumber militer yang dikutip CNN, penyebaran permintaan ide melalui surat elektronik kepada banyak analis bukanlah prosedur yang biasa dilakukan, terlebih saat konflik dengan Iran masih berlangsung.

Salah satu sumber menyebut CENTCOM sedang meninjau seluruh opsi yang tersedia dan merasa perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi yang diterapkan.

Laporan itu muncul setelah CIA dan Defense Intelligence Agency (DIA) menilai bahwa pola serangan udara AS saat ini kecil kemungkinan mampu mengubah posisi Iran dalam perundingan. Serangan tersebut dinilai hanya dapat melemahkan sebagian kemampuan militer Iran, tetapi belum tentu memaksa Teheran menerima kesepakatan yang diinginkan Washington.

Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine bahkan mengakui bahwa “kekuatan udara memiliki batas.”

Meski demikian, CENTCOM tidak membantah laporan tersebut. Juru bicaranya, Kapten Timothy Hawkins, mengatakan bahwa komando tersebut memang memiliki tradisi panjang dalam berpikir dan bertindak secara inovatif.

Efektivitas Operasi Mulai Dipertanyakan

Beberapa hari sebelum email tersebut dikirim, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper dilaporkan telah memberi tahu Pentagon dan Gedung Putih bahwa operasi pengeboman di sekitar Selat Hormuz telah mencapai batas efektivitasnya.

Menurut laporan Axios, Cooper menilai sebagian besar target penting telah dihancurkan dan melanjutkan pola serangan yang sama tidak akan memberikan dampak signifikan.

Ia menyebut bahwa untuk mencapai sisa target operasi, AS harus meningkatkan eskalasi menuju operasi tempur yang jauh lebih besar.

Situasi ini juga diperburuk oleh laporan mengenai menurunnya persediaan rudal pencegat Amerika, sebelum Presiden Donald Trump akhirnya menghentikan serangan pada 24 Juli lalu.

Dengan demikian, persoalannya bukan lagi kekurangan sasaran, tetapi biaya dan risiko untuk menyerang target yang tersisa semakin tinggi.

Diplomasi Kembali Mengemuka

Washington sebenarnya masih memiliki pilihan menyerang fasilitas-fasilitas strategis Iran yang lebih dalam, termasuk kompleks bawah tanah di sekitar Natanz.

Namun sejumlah sumber mengatakan kepada CNN bahwa serangan udara saja kemungkinan tidak cukup menghancurkan fasilitas tersebut dan bisa memerlukan operasi pasukan darat, sesuatu yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan dipilih Trump.

Di tengah meningkatnya risiko perang yang lebih luas, jalur diplomasi kembali menjadi pilihan.

Trump bahkan mengaku membatalkan rencana serangan yang disebutnya akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II” setelah adanya komunikasi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Tak lama kemudian, ia mengumumkan dimulainya kembali pembicaraan dengan Iran.

Washington Cari Kombinasi Tekanan Baru

Meski tidak ada rincian resmi mengenai ide-ide yang diminta CENTCOM, sejumlah analis memperkirakan Washington kini berupaya menggabungkan tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik secara bersamaan.

Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan kapal yang dituduh membantu Iran memperoleh keuntungan dari aktivitas di Selat Hormuz.

Sementara itu, CNN melaporkan Trump juga mempertimbangkan serangan simbolis terhadap target yang sama atau lokasi serupa, sebagai upaya memperoleh kemenangan politik tanpa harus memperluas perang.

Di sisi lain, Iran dinilai menerapkan strategi berbeda. Jika Washington berusaha menghancurkan target-target strategis di dalam negeri Iran, Teheran justru memperluas dampak konflik ke jalur pelayaran internasional, sektor energi, serta negara-negara kawasan.

Peneliti Michael Knights mengatakan kepada Reuters bahwa kekuatan utama Iran bukan semata kemampuannya menyerang Amerika atau "Israel", melainkan kemampuannya mengganggu stabilitas kawasan dan ekonomi global.

Restrukturisasi di Pentagon

Evaluasi strategi terhadap Iran juga berlangsung di tengah perubahan besar dalam struktur kepemimpinan Pentagon.

Sejak 2025, Presiden Trump mengganti sejumlah pejabat tinggi militer dan intelijen, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal CQ Brown, Kepala Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti, serta beberapa pejabat senior lainnya.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mencopot Direktur Defense Intelligence Agency Letjen Jeffrey Kruse setelah laporan awal lembaga tersebut dinilai berbeda dengan klaim Trump mengenai keberhasilan menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

Perombakan berlanjut hingga 2026 dengan pensiunnya sejumlah jenderal senior serta pengurangan lebih dari 78.000 pegawai sipil Pentagon.

Menurut pengamat, perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan lemahnya kemampuan militer AS, tetapi memperlihatkan bahwa Pentagon sedang menghadapi perang yang kompleks di tengah restrukturisasi internal dan perbedaan pandangan antara penilaian intelijen dengan narasi politik.

Belum Kehabisan Kekuatan, tetapi Mulai Kehabisan Opsi

Secara militer, Amerika Serikat masih memiliki kemampuan untuk meningkatkan intensitas serangan bahkan mengerahkan pasukan darat.

Namun kemampuan mempertahankan konflik dalam jangka panjang sambil melindungi pasukan dan sekutunya menghadapi tekanan yang semakin besar, baik dari sisi politik maupun logistik.

Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut stok rudal pencegat Patriot AS turun drastis dari sekitar 2.330 unit sebelum perang menjadi sekitar 759–827 unit. Sementara stok rudal THAAD berkurang dari 452 menjadi sekitar 234–278 unit.

Meski Pentagon menegaskan militer AS tetap menjadi yang terkuat di dunia dan memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan, sejumlah analis menilai persoalan utama Washington kini bukan lagi kekuatan militernya, melainkan efektivitas penggunaannya.

Permintaan CENTCOM agar para analis mencari ide-ide baru dinilai mencerminkan bahwa berbagai bentuk tekanan di bawah ambang perang besar telah dicoba, sementara eskalasi berikutnya berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas—sesuatu yang hingga kini masih ingin dihindari pemerintahan Trump.

(Samirmusa/arrahmah.id)