Memuat...

Asy Syaraa ke Trump: “Kenapa Bukan New Jersey untuk 'Israel'?”

Hanoum
Ahad, 27 September 2026 / 16 Rabiulakhir 1448 04:04
Asy Syaraa ke Trump: “Kenapa Bukan New Jersey untuk 'Israel'?”
Ahmad asy Syaraa (kanan) dan Donalad Trump berjabat tangan saat pertemuan multilateral negara-negara Arab dan Turki di sela-sela Sidang Umum PBB di Kota New York. [Foto: Getty Images]

NEW YORK (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa mengungkapkan bahwa dirinya pernah bercanda kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar New Jersey diberikan kepada 'Israel', bukan Dataran Tinggi Golan, ketika keduanya membahas status wilayah yang disengketakan tersebut. Candaan itu disampaikan asy Syaraa saat berbicara dalam forum Atlantic Council di New York, Selasa (22/9/2026), di sela-sela rangkaian Sidang Umum PBB.

Menurut asy Syaraa, seperti dilansir The New Arab (24/9), ia menjawab dengan candaan ketika Trump menyampaikan pengakuan kedaulatan 'Israel' atas Dataran Tinggi Golan. Ia mengatakan jika Trump ingin memberikan wilayah kepada 'Israel', New Jersey bisa menjadi pilihan karena wilayah itu berada di Amerika Serikat.

Candaan itu kemudian dikaitkan asy Syaraa dengan politik domestik Amerika. Ia mengatakan New Jersey memiliki banyak pemilih Partai Demokrat yang tidak memilih Trump sehingga, menurut leluconnya, memberikan wilayah tersebut kepada 'Israel' tidak akan terlalu merugikan secara politik bagi Trump. Namun, asy Syaraa segera menegaskan bahwa pernyataan tersebut hanyalah candaan dan bukan usulan politik.

Asy Syaraa mengatakan, terlepas dari candaan tersebut, Golan merupakan wilayah milik rakyatnya dan bukan sesuatu yang dapat diberikan atau dilepaskan oleh presiden Suriah maupun presiden Amerika Serikat. Posisi tersebut sejalan dengan sikap pemerintah Suriah yang tetap menganggap Golan sebagai bagian dari wilayah Suriah. Sebagian besar komunitas internasional juga tidak mengakui aneksasi 'Israel' atas wilayah tersebut.

Asy Syaraa menambhakan bahwan kontak langsung antara kedua negara telah berlangsung sekitar satu tahun dengan keterlibatan Amerika Serikat sebagai mediator. Ia mengklaim kedua pihak pada beberapa kesempatan telah mendekati kesepakatan hingga sekitar 90 persen, tetapi kemudian muncul perbedaan yang membuat proses tersebut belum menghasilkan kesepakatan final.

Menurut asy Syaraa, pembahasan yang sedang berlangsung belum dapat disebut sebagai proses menuju perjanjian damai penuh. Ia mengatakan tahap awal yang diinginkan Damaskus adalah penarikan pasukan 'Israel' dari wilayah Suriah yang dimasuki setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024 dan kembali pada garis pemisah yang ditetapkan dalam Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974.

Di forum yang sama, asy Syaraa juga mengkritik kebijakan 'Israel' terhadap Suriah. Ia mengatakan kepentingan keamanan 'Israel' tidak seharusnya menjadi dasar bagi seluruh kebijakan terhadap Suriah dan menyerukan penyelesaian melalui diplomasi. Di sisi lain, ia tetap memberikan penilaian positif terhadap Trump, dengan menyebut presiden AS itu telah mendukung Suriah dan mengambil keputusan penting untuk mencabut sanksi Amerika terhadap negara tersebut. (hanoum/arrahmah.id)