DHAKA (Arrahmah.id) -- Bangladesh menyatakan minat untuk bergabung dengan Makkah Joint Defence Agreement, pakta pertahanan yang ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Ketertarikan Dhaka disampaikan pejabat senior Kementerian Luar Negeri Bangladesh pada Senin (24/8/2026), tetapi pemerintah belum mengajukan keputusan resmi untuk menjadi anggota.
Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Bangladesh Humayun Kabir mengatakan, seperti dilansir Andaolu Agency (25/8), Dhaka memandang positif kemungkinan bergabung dengan kerangka pertahanan tersebut. Ia menyebut Bangladesh tidak akan menganggap keikutsertaan dalam kerja sama keamanan negara-negara Muslim sebagai sesuatu yang tidak biasa, selama langkah tersebut sejalan dengan kepentingan nasional Bangladesh.
“Kami telah menyatakan minat terhadap Pakta Pertahanan Makkah. Bangladesh kini merupakan negara yang mendapat pengakuan, dan mitra kami di Asia Barat serta negara-negara lain memiliki hubungan yang sangat baik dengan kami,” kata Humayun Kabir. Ia menegaskan setiap keputusan mengenai keanggotaan akan mempertimbangkan kepentingan nasional Bangladesh.
Pernyataan tersebut muncul setelah Arab Saudi mengundang Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman untuk berpartisipasi dalam pakta tersebut. Reuters melaporkan bahwa Dhaka sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan perjanjian yang menerapkan prinsip pertahanan kolektif, yaitu serangan terhadap satu negara anggota dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Pakta Makkah sendiri ditandatangani pada 7 Agustus 2026 oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Kesepakatan tersebut membangun kerangka kerja pertahanan bersama di antara ketiga negara dan dipandang sebagai upaya meningkatkan kemampuan pencegahan kolektif di tengah perubahan lanskap keamanan kawasan. Sejumlah media menggambarkannya sebagai embrio aliansi pertahanan negara-negara Muslim, meskipun struktur dan cakupannya belum setara dengan NATO.
Ketertarikan Bangladesh menjadi penting karena negara tersebut selama ini menjalankan kebijakan luar negeri yang berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan, termasuk India, China, Amerika Serikat, serta negara-negara Timur Tengah. Reuters menilai kemungkinan Dhaka masuk ke pakta tersebut dapat menguji keseimbangan kebijakan luar negerinya, terutama hubungan dengan India, yang memiliki persoalan tersendiri dengan Pakistan.
New Delhi berpotensi memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan tersebut karena Pakistan merupakan salah satu anggota pendiri pakta. India Today melaporkan bahwa Bangladesh tetap membuka kemungkinan bergabung, tetapi keputusan akhirnya akan ditentukan berdasarkan kepentingan nasional dan pendekatan Bangladesh First. Dengan demikian, ketertarikan Dhaka belum dapat diartikan sebagai perubahan resmi orientasi strategis Bangladesh.
Selain pertimbangan geopolitik, Bangladesh juga memiliki hubungan ekonomi dan sosial yang cukup erat dengan negara-negara Teluk. Jutaan warga Bangladesh bekerja di kawasan tersebut dan mengirimkan remitansi ke dalam negeri. Karena itu, hubungan dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk memiliki arti penting bagi kepentingan ekonomi Dhaka, selain kerja sama politik dan pertahanan.
Pada saat yang sama, Bangladesh tengah memperluas kerja sama pertahanannya dengan sejumlah negara. Reuters pada 25 Agustus melaporkan Dhaka juga sedang bergerak menuju negosiasi formal dengan China mengenai kemungkinan pembelian jet tempur J-10CE dan helikopter serang. Perkembangan ini menunjukkan bahwa Bangladesh sedang berupaya memperluas pilihan kerja sama pertahanannya, bukan hanya bergantung pada satu mitra strategis.
Bagi Pakistan, masuknya Bangladesh akan memiliki arti strategis tersendiri karena dapat memperluas jangkauan geografis pakta dari Timur Tengah menuju Asia Selatan. Bagi Turki dan Arab Saudi, keikutsertaan Bangladesh juga berpotensi memperkuat dimensi politik dan pertahanan dari kerja sama yang baru dibentuk tersebut. Namun, konsekuensi terhadap hubungan Bangladesh dengan India dan kekuatan besar lainnya masih menjadi pertimbangan yang harus dihitung Dhaka. (hanoum/arrahmah.id)
