Memuat...

Mengapa AS dan Iran Jadi Musuh? Ini Sejarah Panjang Hubungan Keduanya

Samir Musa
Selasa, 25 Agustus 2026 / 13 Rabiulawal 1448 22:28
Mengapa AS dan Iran Jadi Musuh? Ini Sejarah Panjang Hubungan Keduanya
Hubungan Amerika Serikat dan Iran diwarnai aliansi serta kepentingan bersama selama pemerintahan Shah, tetapi berubah menjadi permusuhan setelah Revolusi Islam Iran. (Al Jazeera)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Hubungan Amerika Serikat dan Iran mengalami perubahan dramatis dalam lebih dari tujuh dekade. Dari hubungan yang awalnya dibangun atas kepentingan militer dan minyak pada era Shah, kedua negara kemudian berubah menjadi musuh bebuyutan setelah Revolusi Islam Iran 1979.

Selama sekitar 75 tahun, Iran menjadi salah satu persoalan paling rumit bagi para presiden Amerika Serikat. Krisis penyanderaan, konflik di Timur Tengah, program nuklir Iran, hingga konfrontasi militer menjadi bagian dari sejarah panjang hubungan kedua negara.

Berikut sejumlah tonggak penting hubungan Amerika Serikat dan Iran sejak 1953, sebagaimana dirangkum dari The Wall Street Journal dan dilansir dari Al Jazeera.

1953: Kudeta terhadap Mohammad Mossadegh

Hubungan modern Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dilepaskan dari kudeta 1953 terhadap Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh.

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) terlibat dalam penggulingan Mossadegh di tengah kepentingan Washington dan Inggris terhadap minyak Iran. Mossadegh sebelumnya mengambil kebijakan nasionalisasi industri minyak Iran yang dikuasai perusahaan asing.

Kudeta tersebut membuka jalan bagi semakin kuatnya posisi Shah Mohammad Reza Pahlavi.

1953–1979: Era Shah dan hubungan erat dengan Washington

Setelah Mossadegh digulingkan, Shah Mohammad Reza Pahlavi memperkuat kekuasaannya. Iran kemudian menjadi salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah.

Hubungan kedua negara berkembang terutama dalam bidang militer, persenjataan dan minyak. Washington melihat Iran sebagai mitra strategis dalam menghadapi pengaruh Uni Soviet di kawasan.

Namun, kedekatan tersebut juga membuat Amerika Serikat semakin identik dengan pemerintahan Shah di mata kelompok oposisi Iran.

1979: Revolusi Islam dan krisis penyanderaan

Revolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah pada 1979 dan mengakhiri pengaruh dominan Amerika Serikat di Iran.

Sekitar 10 bulan setelah revolusi, ribuan mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera puluhan orang, termasuk diplomat Amerika.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik paling penting dalam hubungan Washington-Teheran.

1980: Upaya penyelamatan sandera gagal

Pemerintahan Presiden Jimmy Carter melancarkan operasi militer untuk membebaskan para sandera Amerika.

Operasi tersebut gagal dan menewaskan delapan personel militer Amerika Serikat. Kegagalan itu turut memperburuk posisi politik Carter menjelang pemilihan presiden.

1981: Para sandera dibebaskan

Sebanyak 52 warga Amerika yang disandera Iran akhirnya dibebaskan pada 1981, tepat setelah Ronald Reagan dilantik sebagai presiden Amerika Serikat.

Pembebasan tersebut mengakhiri krisis penyanderaan yang telah berlangsung selama 444 hari.

1983: Serangan terhadap pasukan Amerika di Beirut

Pada 1983, sebuah serangan terhadap barak militer Amerika Serikat di Beirut, Lebanon, menewaskan 241 personel Amerika.

Serangan tersebut dikaitkan dengan kelompok yang didukung Iran dan menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap pasukan Amerika dalam satu hari sejak Perang Dunia II.

1981–1986: Skandal Iran-Contra

Hubungan Washington dan Teheran kembali memasuki babak kontroversial melalui skandal Iran-Contra.

Pemerintahan Reagan diketahui secara rahasia menjual senjata kepada Iran. Sebagian dana dari transaksi tersebut kemudian dialihkan untuk mendukung kelompok pemberontak antikomunis di Nikaragua.

Skandal itu mengguncang pemerintahan Reagan dan menjadi salah satu kontroversi politik terbesar pada masa kepresidenannya.

1989: Fatwa terhadap Salman Rushdie

Pada 1989, Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa terhadap penulis Inggris Salman Rushdie terkait novelnya The Satanic Verses atau Ayat-Ayat Setan.

Langkah tersebut semakin memperkuat kekhawatiran negara-negara Barat terhadap ideologi dan kebijakan Iran pascarevolusi.

1995: Amerika Serikat memperketat sanksi

Presiden Bill Clinton memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran dan melarang perusahaan-perusahaan Amerika memanfaatkan sumber daya minyak Iran.

Washington juga memperluas tekanan melalui sanksi sekunder terhadap perusahaan asing yang melakukan transaksi dengan Iran. Kebijakan tersebut memicu ketegangan dengan sejumlah negara Eropa.

2002: Iran masuk “poros kejahatan”

Presiden George W. Bush memasukkan Iran ke dalam apa yang disebutnya sebagai “poros kejahatan”, bersama Irak dan Korea Utara.

Pada periode yang sama, muncul laporan mengenai aktivitas nuklir Iran. Persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Teheran dan Washington.

2009: Tekanan terhadap program nuklir Iran

Pemerintahan Presiden Barack Obama meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi ekonomi yang semakin ketat.

Amerika Serikat juga melancarkan operasi siber terhadap program nuklir Iran. Sanksi terhadap sektor minyak Iran diperkuat sehingga memberikan tekanan besar terhadap perekonomian negara tersebut.

2015: Kesepakatan nuklir Iran

Setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan, Iran dan sejumlah negara besar dunia mencapai kesepakatan nuklir pada 2015.

Kesepakatan tersebut, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), membatasi aktivitas nuklir Iran dan membuka akses bagi pemeriksaan internasional.

Sebagai imbalannya, sanksi terhadap Iran dilonggarkan dan sebagian aset Iran yang dibekukan di luar negeri dapat diakses kembali.

Kesepakatan itu menjadi salah satu pencapaian diplomatik terbesar pemerintahan Obama dalam kebijakan luar negeri.

2018: Trump keluar dari kesepakatan nuklir

Presiden Donald Trump pada 2018 memutuskan menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran.

Washington kemudian menerapkan kembali sanksi berat terhadap Teheran dan berupaya menekan ekspor minyak Iran secara maksimal melalui kebijakan yang dikenal sebagai maximum pressure.

2020: Qassem Soleimani tewas

Ketegangan meningkat tajam pada Januari 2020 ketika Amerika Serikat melakukan serangan udara di Baghdad yang menewaskan Mayor Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Soleimani merupakan salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Iran dan memainkan peran penting dalam operasi Iran di berbagai wilayah Timur Tengah.

Pembunuhan tersebut hampir memicu konfrontasi terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.

2023: Perang Gaza memperluas ketegangan

Setelah pecahnya perang di Gaza pada 2023, pemerintahan Presiden Joe Biden meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah untuk mendukung "Israel".

Pada saat yang sama, kelompok-kelompok yang didukung Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap kepentingan dan pangkalan Amerika Serikat di Irak dan Suriah.

Situasi tersebut kembali menempatkan Washington dan Teheran dalam posisi berhadap-hadapan meskipun keduanya berupaya menghindari perang langsung.

2025: Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran

Setelah kembali memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendukung serangan "Israel" terhadap sejumlah pihak yang disebut sebagai sekutu Iran di Gaza, Lebanon, Suriah dan Yaman.

Dalam perkembangan berikutnya, Amerika Serikat melancarkan serangan udara menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 terhadap tiga fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah tanah.

Trump kemudian menyatakan bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan.

2026: Perang baru Amerika Serikat dan "Israel" terhadap Iran

Pada 2026, konfrontasi antara Amerika Serikat, "Israel" dan Iran kembali meningkat menjadi serangan militer langsung.

Trump bersama "Israel" melancarkan serangan baru terhadap Iran. Pada hari pertama kampanye tersebut, Trump mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas.

Trump mengatakan Khamenei tidak mampu menghindari operasi intelijen Amerika Serikat serta sistem pelacakan yang disebutnya sangat canggih.

Perkembangan tersebut menandai babak baru dalam hubungan Washington dan Teheran yang selama lebih dari tujuh dekade telah berubah dari hubungan strategis berbasis kepentingan bersama menjadi salah satu permusuhan paling panjang dan kompleks dalam politik internasional.

(Samirmusa/arrahmah.id)