JENEWA (Arrahmah.id) -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam ancaman 'Israel' untuk mengintensifkan serangan dan mengusir warga Palestina dari kawasan Gaza yang digunakan untuk menerbangkan layang-layang, balon, atau drone. PBB menyebut ancaman tersebut “keterlaluan”, setelah Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz memperingatkan Hamas agar menghentikan peluncuran benda-benda tersebut ke arah wilayah 'Israel'.
Kecaman itu disampaikan Ravina Shamdasani, juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (25/8/2026). Shamdasani menyoroti ancaman pengusiran warga Gaza sebagai persoalan serius karena ancaman tersebut muncul berkaitan dengan aktivitas menerbangkan layang-layang yang dilakukan anak-anak.
“Mengenai ancaman pengusiran karena anak-anak menerbangkan layang-layang, saya berharap kita semua sepakat bahwa itu keterlaluan,” kata Ravina Shamdasani kepada wartawan di Jenewa, dikutip dari The Times of Israel (25/8).
Pernyataan PBB tersebut merespons keputusan Netanyahu dan Katz yang memerintahkan militer 'Israel' mengambil tindakan lebih keras terhadap peluncuran layang-layang, balon, dan drone dari Jalur Gaza. Pemerintah 'Israel' mengatakan tindakan tersebut diperlukan untuk mencegah ancaman terhadap komunitas 'Israel' di dekat perbatasan Gaza.
Netanyahu dan Katz sebelumnya memperingatkan bahwa jika peluncuran terus berlangsung, 'Israel' akan meningkatkan serangan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab dan dapat melakukan evakuasi terhadap penduduk dari kawasan yang disebut sebagai lokasi peluncuran.
'Israel' beralasan kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar. Dalam konflik sebelumnya, Hamas dan kelompok Palestina lainnya pernah menggunakan layang-layang serta balon yang membawa bahan mudah terbakar untuk memicu kebakaran di wilayah 'Israel' yang berdekatan dengan Gaza. Karena pengalaman tersebut, aparat 'Israel' memandang benda-benda yang diterbangkan dari Gaza sebagai potensi ancaman keamanan.
Arab News mencatat bahwa tradisi menerbangkan layang-layang sendiri telah lama menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Palestina di Gaza, meskipun pernah digunakan dalam konteks konflik.
Namun, perkembangan terbaru berbeda dengan penggunaan layang-layang pembakar pada masa lalu. Anadolu Agency melaporkan bahwa militer 'Israel' menyatakan empat layang-layang yang berhasil ditemukan tidak mengandung bahan mencurigakan dan tidak menimbulkan bahaya. Hamas kemudian menuduh pemerintah 'Israel' menggunakan persoalan tersebut sebagai alasan untuk memperluas serangan terhadap Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan ancaman 'Israel' merupakan upaya membenarkan tindakan militer terhadap warga Gaza. “Ancaman ini, yang didasarkan pada dalih-dalih yang dibuat-buat, merupakan upaya untuk membenarkan kelanjutan agresi dan pelanggaran terhadap rakyat kami, bahkan sampai mengancam anak-anak di Gaza,” kata Qassem.
Al Jazeera melaporkan bahwa ancaman 'Israel' mengenai layang-layang muncul bersamaan dengan serangan militer di Gaza. Media tersebut menyebut 'Israel' dituduh menggunakan persoalan layang-layang sebagai alasan untuk meningkatkan operasi militernya, sementara 'Israel' mempertahankan posisi bahwa peluncuran benda dari Gaza merupakan ancaman yang harus ditanggapi.
Di tengah ketegangan tersebut, sejumlah warga Gaza mulai khawatir anak-anak mereka menjadi sasaran karena menerbangkan layang-layang. Al Jazeera menayangkan laporan mengenai seorang anak Gaza yang menangis dan menghancurkan layang-layangnya setelah mendengar ancaman 'Israel'. Laporan itu menggambarkan bagaimana pernyataan mengenai layang-layang telah memengaruhi aktivitas sehari-hari anak-anak di wilayah tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
