Memuat...

Empat Musuh Netanyahu di Baliho 'Israel', Siapa Saja Mereka?

Hanoum
Rabu, 26 Agustus 2026 / 14 Rabiulawal 1448 07:59
Empat Musuh Netanyahu di Baliho 'Israel', Siapa Saja Mereka?
Sebuah tampilan drone dari papan reklame kampanye Partai Likud Benjamin Netanyahu yang menggambarkan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Walikota New York City Zohran Mamdani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan kepala Hizbullah Naim Qassem, serta teks dalam bahasa Ibrani yang berbunyi "Mereka Ingin Netanyahu Kalah, Jangan Biarkan Mereka Menang", di Tel Aviv, Israel pada 17 Agustus. [Foto: Amir Cohen/Reuters]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan partai Likud memasang baliho kampanye di Tel Aviv yang menampilkan empat tokoh yang diposisikan sebagai pihak yang ingin Netanyahu kalah dalam pemilihan umum 'Israel' mendatang. Keempatnya adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani. Baliho itu memuat pesan, "Mereka ingin Netanyahu kalah. Jangan biarkan mereka menang."

Dilansir CNN (25/8/2026), baliho tersebut muncul di jalan utama Tel Aviv menjelang pemilihan umum 'Israel' yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Netanyahu kemudian mengunggah kembali foto baliho tersebut di media sosial X dengan pesan singkat, “Jangan biarkan mereka menang.” Langkah itu menjadi bagian dari strategi kampanye Likud yang berupaya membingkai pemilu sebagai pertarungan antara Netanyahu dan pihak-pihak yang dianggap menginginkan kekalahannya.

“Jangan biarkan mereka menang,” tulis Benjamin Netanyahu ketika membagikan gambar baliho tersebut. Pernyataan itu tidak secara eksplisit menyebut keempat tokoh sebagai “musuh Israel” dalam kalimatnya, tetapi baliho Likud menempatkan mereka dalam satu gambar sebagai pihak yang disebut menginginkan Netanyahu kalah. Karena itu, penyebutan mereka sebagai “musuh” perlu dipahami sebagai framing politik kampanye Likud, bukan sebagai status hukum atau klasifikasi resmi yang sama terhadap keempat tokoh tersebut.

Tokoh pertama adalah Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki. Hubungan Ankara dan pemerintahan Netanyahu memburuk tajam akibat perang Gaza dan perselisihan mengenai kebijakan 'Israel' di kawasan. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan juga meningkat terkait keterlibatan Turki di Suriah. Netanyahu menentang perluasan kehadiran militer Turki di wilayah Suriah dan menyebut kebijakan Ankara sebagai ancaman bagi Israel.

Perselisihan Netanyahu-Erdoğan bahkan telah berkembang ke ranah hukum dan diplomatik. Al Jazeera melaporkan bahwa Turki meminta penerbitan surat perintah penangkapan internasional terhadap Netanyahu dalam kasus yang berkaitan dengan tuduhan genosida, sementara Israel membantah tuduhan tersebut. Kantor Netanyahu kemudian menuduh Erdoğan berusaha mengintimidasi 'Israel', sedangkan Ankara mengecam apa yang disebutnya sebagai taktik politik Netanyahu.

Tokoh kedua adalah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Ia merupakan figur utama Republik Iran dan menjadi lawan strategis 'Israel'. Namanya ditempatkan dalam baliho bersama Erdoğan, Qassem dan Mamdani setelah konflik 'Israel'-Iran serta ketegangan regional yang melibatkan kedua negara. Al Jazeera juga mencatat bahwa Khamenei merupakan pemimpin tertinggi baru Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei meninggal dalam serangan Amerika Serikat dan 'Israel' pada awal 2026.

Tokoh ketiga adalah Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah. Kelompok yang dipimpinnya merupakan salah satu lawan bersenjata utama 'Israel' di kawasan. Menempatkan Qassem dalam baliho bersama pemimpin Iran dan Turki memperlihatkan upaya Likud menggabungkan ancaman militer regional dengan lawan politik yang berada di luar Timur Tengah.

Tokoh keempat adalah Zohran Mamdani, Wali Kota New York. Berbeda dengan tiga tokoh lainnya, Mamdani bukan pemimpin negara yang sedang berkonfrontasi militer dengan 'Israel' dan tidak memimpin kelompok bersenjata. Namanya dimasukkan karena perselisihan politiknya dengan Netanyahu, terutama setelah Mamdani menyatakan bahwa Netanyahu tidak akan diterima di New York dan sebelumnya menyerukan penegakan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional terhadap perdana menteri 'Israel'.

Mamdani sendiri pernah mengatakan bahwa “Benjamin Netanyahu adalah penjahat perang” dan menyerukan agar pemerintah federal Amerika Serikat menjalankan surat perintah penangkapan ICC. Namun, ia kemudian mengakui bahwa pemerintah kota New York tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk mengeksekusi surat perintah tersebut. Sikap tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Mamdani dijadikan sasaran serangan politik Netanyahu menjelang pemilu 'Israel'. (hanoum/arrahmah.id)