JAKARTA (Arrahmah.id) -- Israel-Asia Center membuka pendaftaran untuk program Israel-Indonesia Futures 2027 yang menyasar warga Indonesia dan 'Israel' dari kalangan profesional serta pemimpin di berbagai bidang. Program yang pendaftarannya dijadwalkan dibuka pada September 2026 itu bukan rekrutmen pekerjaan oleh Pemerintah 'Israel', melainkan program jejaring dan pengembangan kepemimpinan yang secara terbuka bertujuan membangun hubungan antara masyarakat 'Israel' dan Indonesia di tengah belum adanya hubungan diplomatik kedua negara.
Informasi resmi Israel-Asia Center menyebut pendaftaran program 2027 akan dibuka pada September 2026 dan ditutup pada 29 Oktober 2026. Proses wawancara bagi kandidat terpilih dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 27 November 2026, sementara pengumuman penerimaan dilakukan paling lambat 10 Desember 2026. Program sendiri dijadwalkan berlangsung secara daring pada 3 Januari hingga 2 Mei 2027. Peserta yang diterima dikenakan acceptance fee sebesar 350 dolar AS.
Dilansir Israel Asia Center (25/8/2026), program tersebut diselenggarakan oleh Israel-Asia Center, organisasi nirlaba yang berbasis di 'Israel'. Pesertanya ditujukan bagi emerging and established leader, atau profesional tingkat menengah hingga senior, baik dari Indonesia maupun Israel. Bidang yang dicakup cukup luas, antara lain bisnis, inovasi dan teknologi, pendidikan, kebijakan, budaya, media, dampak sosial, serta investasi. Kandidat juga diwajibkan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dan menunjukkan rekam jejak kepemimpinan serta ketertarikan untuk membangun hubungan Israel-Indonesia.
Israel-Asia Center secara terbuka menyatakan bahwa program tersebut dirancang untuk mempertemukan para pemimpin Indonesia dan 'Israel' guna membangun jejaring dan kerja sama. Peserta Indonesia disebut akan memperoleh akses terhadap jejaring profesional di 'Israel', termasuk di bidang bisnis, pemerintahan, inovasi, modal ventura, teknologi dan pendidikan. Sebaliknya, peserta Israel diarahkan untuk memahami Indonesia sebagai negara berpenduduk besar sekaligus pasar utama di Asia Tenggara.
Emanuel Shahaf, Wakil Ketua Israel-Indonesia Chamber of Commerce sekaligus salah satu penasihat program, menggambarkan inisiatif tersebut sebagai ruang untuk membangun hubungan secara bertahap.
“Program ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi perusahaan dan usaha sosial terkemuka Indonesia dan 'Israel' untuk bersama-sama melakukan apa yang mereka kuasai demi kepentingan kedua negara,” kata Shahaf dalam keterangan Israel-Asia Center.
Kegiatan dalam program tidak berhenti pada seminar. Peserta akan dibagi ke dalam tim yang beranggotakan orang Indonesia dan 'Israel' untuk mengembangkan proyek bersama. Pada program sebelumnya, proyek dapat mencakup bisnis, pendidikan, budaya, media, kebijakan, teknologi, maupun inisiatif sosial. Dengan demikian, pola yang dibangun lebih menyerupai people-to-people engagement atau diplomasi jalur nonpemerintah daripada perekrutan tenaga kerja.
Salah satu contoh kerja sama yang lahir dari program tersebut adalah kajian mengenai ekosistem foodtech 'Israel' dan Indonesia. Dalam white paper berjudul “Bridging Food Innovation Ecosystems: A Comparative Study between Israel and Indonesia”, tim peserta Israel dan Indonesia membandingkan ekosistem inovasi pangan kedua negara dan mengidentifikasi peluang kolaborasi di bidang teknologi pangan, pertanian, kebijakan, investasi dan kewirausahaan inklusif.
Namun, program tersebut berlangsung ketika Indonesia dan 'Israel' masih tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Israel-Asia Center sendiri mengakui kondisi tersebut dan menyebut Israel-Indonesia Futures sebagai program yang mempertemukan pemimpin kedua negara untuk membangun hubungan serta mengeksplorasi potensi kerja sama meskipun tidak terdapat hubungan diplomatik formal.
Konteks tersebut membuat program ini memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pertukaran profesional. Laman resmi Israel-Asia Center secara eksplisit membahas kemungkinan normalisasi hubungan Israel-Indonesia dan mengaitkannya dengan perkembangan hubungan Israel dengan negara-negara lain melalui Abraham Accords. Organisasi itu juga menyatakan bahwa keterlibatan antarmasyarakat diarahkan untuk membangun landasan hubungan di bidang teknologi, bisnis, pendidikan, budaya dan hubungan lintas agama. (hanoum/arrahmah.id)
