DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Wilayah Kurdistan Irak, Nechirvan Barzani, melakukan kunjungan bersejarah ke Damaskus dan bertemu Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa pada Ahad (3/8/2026). Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama seorang pemimpin Kurdi Irak ke ibu kota Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al Assad, sekaligus menandai perkembangan baru dalam hubungan antara pemerintahan Suriah pasca-Assad dan komunitas Kurdi di kawasan.
Menurut pernyataan resmi kepresidenan Suriah, seperti dilansir Al Jazeera (3/8), pertemuan berlangsung di Istana Rakyat, Damaskus. Kedua pemimpin membahas hubungan bilateral antara Suriah dan Wilayah Kurdistan Irak, keamanan perbatasan, stabilitas regional, serta proses dialog antara pemerintah Suriah dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi kelompok Kurdi.
Kunjungan tersebut terjadi ketika pemerintahan asy Syaraa berupaya memperluas kontrol negara setelah pergantian kekuasaan yang mengakhiri era Assad. Pemerintah Suriah saat ini sedang melakukan negosiasi dengan SDF mengenai integrasi struktur keamanan dan administrasi wilayah Kurdi ke dalam negara Suriah yang baru.
Dalam pernyataannya setelah pertemuan, Nechirvan Barzani menegaskan dukungannya terhadap stabilitas dan persatuan Suriah.
"Kami mendukung Suriah yang damai, stabil, dan bersatu. Dialog adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih ada, termasuk terkait masa depan masyarakat Kurdi di Suriah," kata Nechirvan Barzani, dikutip dari Al Monitor.
Sementara itu, Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa menyambut baik kunjungan tersebut dan menegaskan pentingnya hubungan baik dengan Wilayah Kurdistan Irak. Menurut kantor kepresidenan Suriah, asy Syaraa menekankan bahwa pemerintahannya berkomitmen menjaga integritas wilayah Suriah sekaligus membuka ruang dialog dengan seluruh komponen masyarakat, termasuk komunitas Kurdi.
The National News melaporkan bahwa pertemuan ini juga membahas isu keamanan di sepanjang perbatasan Suriah-Irak, termasuk aktivitas kelompok bersenjata dan upaya mencegah kebangkitan kembali sel-sel kelompok militan Islamic State (ISIS). Kerja sama keamanan menjadi salah satu agenda penting mengingat kedua wilayah pernah menjadi pusat operasi kelompok ekstremis tersebut dalam satu dekade terakhir.
Kunjungan bersejarah tersebut berlangsung di tengah perubahan besar lanskap politik Suriah setelah jatuhnya Bashar al-Assad. Dengan masih berlangsungnya negosiasi antara Damaskus dan SDF mengenai status wilayah Kurdi di timur laut Suriah, hasil pertemuan asy Syaraa dan Barzani diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah proses rekonsiliasi dan stabilitas negara itu dalam beberapa bulan mendatang. (hanoum/arrahmah.id)
